Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan jika dilakukan kenaikan BBM secara berkala per tiga bulan menjadi sebesar 20% maka subsidi dapat ditekan mendekati Rp 175 triliun.
"Dan jika kenaikan berkala itu disertai dengan penghematan 20-30% volume BBM bersubsidi, maka dapat ditekan di bawah Rp 150 triliun," ujarnya dalam diskusi yang diadakan wartawan Forkem di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (24/6/2008).
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu mengatakan risiko dalam APBN yang terasa hingga tahun depan adalah risiko migas.
"Yang masuk di dalam risiko migas adalah harga minyak dunia, lifting dan konsumsi," ujarnya.
Dituturkan Anggito harga minyak dunia sangat sulit diprediksi akan naik sampai kapan dan berapa.
"Lifting minyak juga sulit diprediksi berapa karena sumur-sumur kita sudah tua, lalu ketiga adalah besaran konsumsi BBM bersubsidi yang terus meningkat," tuturnya.
Bahkan di tahun ini, dimana asumsi APBN-P 2008 konsumsi hanya sebesar 35,5 juta kilo liter, diperkirakan akan melonjak tajam mencapai 39-40 juta kilo liter.
"Sebab sampai Mei saja, total konsumsi sudah mencapai 16,4 juta kilo liter," tandasnya.
(dnl/ddn)










































