Tahun ini Rekind menargetkan mampu meraup pendapatan hingga Rp 2,5 triliun termasuk dalam proyek offshore. Pencapaian ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya mencapai Rp 1,7 triliun.
Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur PT Rekayasa Industri (Rekind) Triharyo Indrawan Soesilo dalam acara MoU Peningkatan bidang offshore antara Rekind dengan National Ship Design and center (Nasdec) di gedung Departemen Perindustrian (Depperin), Jakarta, Rabu (25/6/2008).
"Sekarang ini kita sudah ikut beberapa tender untuk beberapa anjungan lepas pantai (offshore platform) 2008-2009 diantaranya sudah menang proyek Oyong di Santos Sampang," ujarnya.
Untuk mendukung kemampuan penangananan offshore, Rekind juga bekerjasama dengan Iran untuk pemasangan pipa bawah laut.
"Sekarang ini yang ditangani oleh lokal hanya 30% saja belum bisa jadi kalau US$ 5 miliar saja tahun 2007, jadi masih US$ 1 miliar saja," rincinya.
Bahkan ia menambahkan, dengan adanya ketentuan bahwa tender offshore harus ada perusahaan nasional, maka diharapkan mampu mendorong industri EPC di Indonesia.
"Dulu pada tahun 2004, proyek-proyek skala kecil saja masih asing, bahkan untuk proyek skala US$ 5 sampai US$10 juta dolar," imbuhnya.
Untuk rencana proyek beberapa tahun kedepan, Rekind sedang mengikuti beberapa tender yang berjumlah 8 proyek. Diantaranya proyek terbesar mencapai US$ 800 juta, dengan nilai total mencapai US$ 1,3 miliar.
Untuk pengerjaan konstruksi di luar negeri Rekind mampu menggoalkan proyek di Brunei Metanol dan Serawak dengan total US$ 40 juta. "Kita kontraktor pertama yang mengerjakan di Brunei yang sudah mulai November bulan lalu, akan berakhir tahun 2009," paparnya.
Rekind berusaha menekuni mencoba memenuhi kebutuhan pasar bidang EPC di sektor offshore diantaranya yang sedang dikerjakan adalah pembangunan pipa bawah laut sepanjang 168 Km di Labuhan Maringgai (Sumatera Selatan) melalui Selat Sunda mencapai Muara Bekasi Jawa Barat senilai US$ 135 juta.
Selain itu proyek offshore yang telah dimenangkan oleh Rekind adalah offshore pipeline Oyong senilai US$ 26 juta yang dimiliki oleh Santos Sampang Pte Ltd yang berlokasi di Sampang Jawa Timur.
Hingga kini potensi pasar untuk offshore tahun ini didalam negeri mencapai US$ 9 miliar sedangkan untuk onshore US$ 4 miliar. Hal ini meningkat jauh dibandingkan dengan tahun lalu untuk offshore yang hanya mencapai US$ 5 miliar.
Ia menambahkan sejak Rekind dibangun, hingga kini telah mampu menangani proyek hingga US$ 3,3 miliar. Diharapkan dengan bekerjasama dengan Nasdec mampu meningkatkan kemampuan Rekind dibidang offshore.
"Rekind dulu dibangun senilai US$ 50.000 atau setara dengan sekarang ini Rp 500 juta. Sepanjang sejak dibangun sudah menangani nilai proyek US$ 3,3 miliar dari pajak saja US$ 330 juta kita bisa menyumbangkan pemerintah," ucapnya.
(hen/qom)











































