Inflasi Global Mereda di 2009

Inflasi Global Mereda di 2009

- detikFinance
Kamis, 26 Jun 2008 14:25 WIB
Inflasi Global Mereda di 2009
Jakarta - Tekanan inflasi global yang disebabkan kenaikan harga minyak dunia dan pangan diperkirakan mulai akan mereda di tahun 2009, oleh karena itu indikator ekonomi diharapkan membaik tahun depan.
 
Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda S. Goeltom ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/6/2008).
 
"Kami melihat bahwa inflasi saat ini lebih merupakan spike akibat beberapa hal sama halnya dengan kenaikan BBM juga kenaikan harga pangan dan sebagainya. Kami harapkan tahun depan sudah mulai bekurang tekanannya, sebab pengalaman 2005 juga menunjukkan hal demikian sehingga kami jadi optimistik tahun depan (inflasi) sudah kembali ke 1 digit lagi," tuturnya.
 
Dalam asumsi APBN 2009 yang disepakati panja Panitia Anggaran DPR, pertumbuhan ekonomi disepakati 6-6,5%, inflasi 5,8-6,5%, nilai tukar Rp 9.000-9.200 per US$ dan SBI 3 bulan sebesar 7,5-8,5%.
 
Melihat angka-angka asumsi itu, Miranda mengatakan asumsi tersebut masih masuk dalam perkiraan BI.
 
"Range-nya tidak harus selalu sama seperti dengan pemerintah atau apa yang dibutuhkan oleh pemerintah karena masih di-exercise sama pemerintah dalam nota keuangannya yang nanti bekerja sama dengan BI jadi itu pun belum final, tetapi semua angka-angka tadi masuk ke range kami, angka finalnya masuk dalam angka APBN," urainya.
 
Selain itu, mengenai pengetatan kebijakan moneter di tahun ini dengan tingginya laju inflasi, Miranda mengatakan sebagai otoritas moneter BI akan selalu mengambil kebijakan yang akan dapat menahan laju inflasi.
 
"Yang jelas bagi otoritas moneter kalau kami melihat ada ekspektasi inflasi yang meningkat, kita akan ambil kebijakan dan melihat apakah kami harus melakukan sesuatu atau tidak, jadi tidak selalu dijawab dengan pengetatan," ujarnya.
 
Instrumen yang digunakan juga bermacam-macam seperti suku bunga dan juga pengendalian nilai tukar yang bisa digunakan sebagai alat penahan laju inflasi.
 
"Kemudian secara teoritis banyak instrumen, seperti China memakai instrumen GWM (giro wajib minimum) supaya uang jumlah beredar semakin kecil," katanya.
(dnl/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads