menembus US$ 143 per barel. Pada perdagangan Jumat (27/6/2008) kemarin, harga minyak
sempat menembus US$ 142,99 per barel.
Namun harga minyak di pasar New York akhirnya ditutup naik 57 sen menjadi US$ 140,21
per barel akibat profit taking di sesi-sesi terakhir perdagangan. Sementara minyak
jenis Brent naik 48 sen menjadi US$ 140,31 per barel.
Pasar saham global pun terpuruk hingga level terendahnya dalam 3 bulan terakhir
karena investor mencemaskan dampak lonjakan harga minyak tersebut pada kinerja
emiten plus ancaman inflasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
menyerbu pasar komoditas semakin marak. Investor untuk sementara memilih untuk
mencari alternatif investasi selain pasar saham.
Indeks Dow Jones kemarin ditutup kembali terpuruk hingga 106,91 poin (0,93%) ke
level 11.346,51. Dow Jones bahkan sempat melorot hingga ke level 11.331,62 atau
lebih rendah 20% dari titik tertingginya yang dicapai 9 Oktober lalu.
"Daya tarik baru dari komoditas sebagai alat investasi sangat kontras dengan pasar
saham yang semakin tidak menarik," uajr analis Ritterbusch and Associates dalam
catatan kepada kliennya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (28/6/2008).
Harga minyak tercatat telah melonjak hingga 45% sepanjang tahun ini, melanjutkan
rally harga yang sudah berlangsung selama 6 tahun terakhir. Lonjakan harga umumnya
dipicu oleh alasan-alasan klise seperti gangguan suplai, kenaikan permintaan,
pelemahan dolar AS dll.
Namun kini ada tambahan sentimen dari serbuan investor yang lari ke pasar komoditas
seiring makin terpuruknya bursa saham.
(qom/qom)










































