Bayangkan saja, Indonesia memiliki 500 gunung api yang 130 di antaranya masih aktif. Bahkan bersama dengan Filipina, Indonesia disebut sebagai Cincin Api di kawasan Asia Pasifik (Pacific Ring of Fire) karena memiliki sumber panas bumi terbesar di dunia.
"Ketika saya memikirkan Indonesia, yang terbayang adalah panas bumi. Bahkan Indonesia bisa menggerakkan seluruh perekonomiannya dengan menggunakan energi panas bumi. Tapi sayangnya, pengembangan panas bumi di Indonesia masih jauh dari potensi sesungguhnya," kata President of the Washington-based Earth Policy Institute Lester Brown seperti dilansir reuters, Minggu (29/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi pada kenyataannya, mengembangkan panas bumi di Indonesia terbukti tidak mudah. Proyek pengembangan panas bumi meliputi pengeboran sumur yang sangat dalam untuk mendapatkan uap atau air panas untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Untuk itu, tantangannya bukan hanya masalah teknis, tapi juga kekuatan modal yang bisa disediakan agar proyek ini bisa berjalan selama waktu yang dibutuhkan. Proyek panas bumi biasanya membutuhkan sekitar 8 tahun sejak eksplorasi sampai produksi. Untuk lokasi yang biasa saja investasinya sudah mahal, apalagi untuk daerah yang terbilang sulit seperti di Indonesia dan Filipina.
Masalah tambah runyam kalau sudah dikaitkan dengan kepercayaan penduduk yang bertempat tinggal di sekitar lokasi sumber panas bumi.
Sebut saja proyek pengembangan panas bumi yang terletak di lokasi kramat di Bedugul, Bali. Di lokasi ini diprediksi potensi panas bumi hingga 175 MW atau sekitar setengah dari kebutuhan listrik seluruh Bali.
Tapi hingga sekarang proyek ini masih tertahan karena dikhawatirkan bisa memicu kerusakan lokasi yang dianggap keramat dan mencemari mata air di sekitar sumber panas bumi
Akhirnya, hingga sekarang sebagian besar kebutuhan listrik di Pulau Dewata ini masih dipasok dari Pulau Jawa melalui kabel bawah laut.
"Kami harap proyek ini akan berjalan, bukan hanya untuk penanam modal, tapi juga demi masa depan Bali," kata Ni Made Widiasari dari Bali Energy, perusahan yang mendalangi proyek Bedugul ini. (lih/aba)











































