Pendapatan sebesar ini memungkinkan karena permintaan LNG dunia diperkirakan akan melonjak tajam. Untuk kawasan Asia saja, pada 2030 diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dari kebutuhan sekarang.
''Pasar gas akan terbuka luas di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur,'' ujar Pengamat energi dari Center for Petroleum & Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi dalam paparannya di Jakarta, Selasa (1/7/2008).
Menurut Kurtubi, cadangan gas terbukti di Blok Natuna D Alpha sebesar 222 triliun kaki kubik (TCF). Tetapi karena kadar CO2-nya 70 persen, maka gas metana yang bisa dipisahkan dan dimanfaatkan hanya sekitar.
Dengan potensi gas sebesar 46 TCF itupun, pemerintah bisa mengoptimalkan pendapatan negara dengan memanfaatkan kondisi kenaikan harga energi saat ini. Potensi pendapatan negaranya bisa sampai US$ 20 miliar per tahun.
''Jumlah ini dua kali lipat dari yang negara peroleh dari ekspor LNG Badak 10 miliar dolar AS per tahun,'' ujarnya.
Kurtubi menggambarakan perkiraan biayanya. Jika harga minyak mentah mencapai US$ 200 dolar per barel, maka harga jual LNG dari Blok Natuna bisa mencapai US$ 35 per mmbtu (juta British Thermal Unit).
''Harga tersebut sepuluh kali lipat harga LNG Tangguh yang sekitar US$ 3,5 per mmbtu,' katanya.'
Untuk itu, Pertamina harus segera menetapkan mitra kerja yang akan digandengnya mengembangkan Blok Natuna D Alpha. Kriteria mitra kerja yang harus dipilih Pertamina adalah yang bisa memenuhi teknologi yang lebih maju dan memiliki pendanaan sendiri.
(lih/qom)











































