Lonjakan harga minyak terjadi setelah Presiden OPEC Chakib Khelil menyatakan, negara-negara kartel minyak memberikan perhatian terhadap jumlah permintaan di masa depan. Hal itu membawa konsekuensi pada ketidakpastian investasi untuk peningkatan kapasitas produksi kilang minyak.
"Perhatian kami adalah tentang kelangsungan permintaan," ujar Khelil yang juga merupakan menteri energi Aljazair dalam konferensi energi di Madrid, seperti dikutip dari AFP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak kemarin mengamuk mendekati level US$ 144 per barel, menyusul pelemahan dolar AS terhadap euro. Minyak jenis Brent melonjak ke US$ 143,91 per barel, sementara light menembus US$ 143,67 per barel.
Menurut Khelil, ada 'ketidakpastian yang besar' untuk menginvestasikan dana cukup besar dalam infrastruktur untuk peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC.
"Saya tidak berpikir setiap orang bertanya apakah kami memiliki sumber yang cukup, isunya adalah jika kami mampu menyuplai minyak ke pasar," ketusnya.
Konsumen Harus Membiasakan Diri
Di tempat terpisah, Raja Abdullah dari Arab Saudi menyatakan, negara-negara konsumen harus membiasakan diri dengan tingginya harga.
"Negara-negara konsumen harus beradaptasi dengan harga dan mekanisme pasar. Kami tidak bisa melakukan sesuatu dengan lonjakan harga minyak yang tajam ini," ujarnya dalam wawancara yang dipublikasikan harian Kuwait, Al-Siyassah.
"Negara-negara ini harus mengurangi pajak bahan bakar... jika mereka ingin memberikan kontribusi untuk mengurangi beban konsumen," saran Raja dari negara produsen minyak terbesar dunia itu.
(qom/ddn)










































