Hal tersebut disampaikan Menkeu Sri Mulyani usai rapat panitia khusus RUU Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/7/2008).
Sri Mulyani yang merangkap sebagai Menko Perekonomian ini mengatakan sampai semester 2 pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih di atas 6 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di ekonomi global ini lanjut Menkeu, trade off-nya sudah sangat tajam, dengan inflasi yang meningkat tajam.
"Kalau anda baca eurozone inflasi 2 kali lipat dari yang diharapkan Bank Sentral Eropa, Amerika juga menghadapi ekspektasi inflasi yang meningkat, lalu di negara-negara emerging juga menghadapi hal yang sama, bahkan Vietnam inflasi mencapai di atas 25 persen," ujarnya.
Di sisi lain pertumbuhan global gross langsung turun seperti yang terjadi di AS, dimana pertumbuhannya tidak tidak akan lebih dari 0,8 persen.
"Jadi buat mereka trade off kebijakan antara mereka semua akan memperburuk ekonomi," ujarnya.
Di Indonesia, meskipun ada tekanan inflasi namun Indonesia masih bisa bernafas. Namun lanjutnya, inflasi tidak boleh dianggap sepele.
"Selama kita masih punya fiskal space dan APBN kita masih sehat pemerintah menggunakan itu untuk meredam sisi cost karena sumber inflasi kita berasal dari supply cost. Yang dilakukan pemerintah adalah penurunan bea masuk, pajak yang ditanggung pemerintah, atau bahkan subsidi yang berarti mengurangi reveneu APBN dan spending-nya naik," ujarnya.
(ddn/ir)











































