Hal tersebut disampaikan Presiden SBY dalam keterangan persnya di Bandar Udara Internasional Mahmud Badaruddin II, Palembang, Rabu (2/7/2008).
"Insya Allah minggu depan saya pertama kali dalam sejarah akan hadir dalam pertemuan G8 plus 8 di Jepang. Negara-negara ekonomi terbesar dan besar dunia akan berkumpul. Alhamdulillah, Indonesia diikutkan di situ untuk membahas masalah ini," jelas Presiden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait lonjakan harga minyak dunia, presiden berpendapat bahwa negara-negara prodysen besar tak hanya OPEC tapi juga Rusia dan lainnya duduk bersama dengan negara-negara konsumen minyak yang juga besar seperti Amerika Serikat sendiri, Cina, India.
"Kalau emerging economies juga dianggap mengkonsumsi minyak besar termasuk Indonesia, itupun kita siap bersama-sama untuk duduk bersama dan perusahaan-perusahaan multi nasional yang bergerak di bidang minyak, duduk bersama hitung-hitungan," ujar presiden.
Menurut presiden, masalah produksi yang kurang atau berlebih semestinya jangan disalahkan. Yang menjadi sumber masalah, lanjut presiden, adalah tidak cocoknya masalah permintaan dan penawaran, antara produksi dan konsumsi.
"Duduk bersama, dihitung apa yang bisa dilakukan dan sampai sejauhmana produksi minyak ditingkatkan sekarang ini. Kalau tidak mampu lagi, sampai sejauhmana konsumsinya diturunkan. Hanya dengan cara itu kita bisa menahan untuk tidak meroket terus harga minyak di tingkat dunia ini," imbuhnya
"Saya akan sampaikan pandangan ini minggu depan di Jepang. Dengan demikian lebih konkret, lebih konklusif, lebih bisa diterima masyarakt dunia. Itu menyangkut minyak," pungkasnya.
(qom/ddn)











































