Padahal potensi pasar di Indonesia cukup besar dibandingkan dengan negara lainnya termasuk Malaysia.
Demikian dikatakan oleh Group Chief Economist dan Head Global Research Kuwait Finance House Baljeet Kaur Grewal dalam acara seminar mengenai Reits dan Sukuk di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (2/7/2008).
"Bagi kami sangat tertarik masuk ke Indonesia, kami optimistis terhadap Indonesia," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini pihaknya di Indonesia telah masuk dibeberapa sektor diantaranya di komoditi, minyak dan gas, perbankan dan lain-lain.
"Meskipun inflasi menjadi bayangan tetapi Indonesia masih kompetitif dan kami optimistis. Kita enggak bisa sebutkan nominalnya yang jelas akan lebih tinggi. Sukuk akan membantu pertumbuhan sektor infrastruktur di Indonesia," paparnya.
Ia mencontohkan penetrasi dana dari pihaknya untuk negara Malaysia dan Singapura telah mencapai US$ 35 miliar, termasuk melalui instrumen sukuk.
Mengenai tingginya inflasi yang sekarang ini dialami oleh Indonesia, ia mengatakan bahwa hal itu sama-sama dialami oleh negara-nagara lainnya. Sehingga hal tersebut bukan menjadi masalah, namun ia mengatakan dengan kondisi inflasi sekarang ini Indonesia harus mampu menjinakkan pergerakan inflasi
"Pemerintah Indonesia harus mempunya target untuk menekan inflasi terutama yang disebabkan oleh penarikan subsidi, bagaimanapun subsidi masih diperlukan," ujarnya.
Sementara itu Managing Partner Roosdiono & Partner Anangga W. Roosdiono menambahkan untuk lebih menggalakan dana-dana Timur Tengah untuk bisa masuk di kawasan regional ASEAN termasuk Indonesia perlu adanya aliansi lintas negara untuk saling bekerjasama bagi negara-negara ASEAN.
"Kita mengadakan kerjasama aliansi ASEAN ebih pada bisnis dan investasi diantara Malaysia, Singapura, Vietnam. Dana itu sudah jalan, terutama Timur Tengah itu terhenti di Malaysia. Dengan adanya UU Sukuk yang sudah keluar, masalah pajak yang masuk, kalau itu dilepas semua akan baik," katanya.
Mengenai catatan Industri keuangan berbasis syariah di dunia, diantaranya aset syariah hingga kini mencapai US$ 1 triliun mengalami pertumbuhan 15% hingga 20% per tahun.
Sedangkan untuk Industri takaful mencapai US$ 2,5 miliar diharapkan pada tahun 2015 bisa mencapai US$ 7,4 miliar atau mengalami pertumbuhan 13% per tahun.
Pertumbuhan permintaan sukuk hingga kini mencapai US$ 97,3 miliar (outstanding) pertumbuhan sukuk diharapkan mencapai 30% hingga 35%. (hen/ir)











































