Di London, harga minyak jenis Brent North Sea untuk pengiriman Agustus pada penutupan perdagangan Rabu (2/7/2008) sempat menyentuh rekor US$ 144,65 per barel dan akhirnya ditutup di posisi US$ 144,26 per barel atau naik US$ 3,59.
Begitu juga dengan harga minyak di New York yang melejit tajam. Harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman Agustus sempat ke level US$ 143,91 per barel sebelumnya akhirnya ditutup di posisi US$ 143,57 per barel atau naik US$ 2,6.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Departemen Energi AS mengumumkan stok minyak mentah negeri paman sam itu turun ke 2 juta barel hingga 27 Juni 2008. Pelemahan dolar AS terhadap euro dan mata uang utama lainnya, juga ikut mendorong harga minyak merangkak . Dolar AS pada perdagangan Rabu (2/7.2008) turun terhadap euro ke posisi 1,5883 dolar AS.
Analis minyak dari Alaron Trading, Phil Flynn mengatakan kenaikan harga minyak mengambil untung dari kekhawatiran atas pelemahan ekonomi global dengan turunnya dolar AS.
"Pergerakan harga minyak kini merefleksikan akan ketakutan situasi ekonomi yang begitu dalam," kata Flynn seperti dilansir dari AFP, Kamis (3/7/2008).
Sementara Sekjen OPEC Abdallah el-Badri meminta otoritas AS untuk menghentikan tekanannya kepada negara OPEC agar negara-negara OPEC menambah lagi produksi minyak mentahnya.
"Saya minta dihentikan tekanan terhadap OPEC," katanya dalam wawancara dengan koran di Spanyol, El Pais, ketika ditanya soal pernyataan kongres AS agar Departemen Kehakiman AS melakukan gugatan terhadap anggota OPEC atas konspirasi yang dilakukan melalui ketatnya pasokan yang memicu kenaikan harga minyak.
el-Badri menolak tingginya harga minyak akibat kurangnya pasokan seperti kebanyakan pendapat negara barat, tapi lebih karena aksi spekulasi yang timbul dari krisis kredit perumahan subprime yang terjadi di AS.
"Faktanya, ini sangat untuk dijelaskan: krisis subprime pada akhir musim panas tahun lalu di AS telah memberikan dampak buruk ke pasar saham. Investor kemudian mencari alternatif lain dengan masuk ke bursa komoditas sehingga pasar komoditas menjadi lebih atraktif oleh aksi spekulasi," jelas el-Badri.
(ir/ir)










































