Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR Dradjad H. Wibowo ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/7/2008).
"Selain itu, tingginya harga minyak dunia juga menyebabkan pemerintah menahan sebagian pencairan dana untuk program jangka pendek. Persoalannya adalah menjaga likuiditas, jadi sebagian besar dana ditahan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya sekarang anggaran surplus karena memang tidak dipakai. Pemerintah sengaja membuat pencairan anggaran seret karena masalah likuiditas," jelasnya.
Selain itu, Dradjad juga mengatakan dengan kondisi likuiditas pemerintah yang dinilai menahan likuiditas anggaran untuk antisipasi lonjakkan subsidi BBM karena kenaikkan harga minyak, mestinya rupiah sudah terkoreksi tajam.
"Jadi kestabilan rupiah itu saat ini karena BI yang berkorban menjaga rupiah dengan biaya moneter yang besar. Apalagi penempatan devisa hasil ekspor pemerintah cenderung meningkat mencapai US$ 2,8 miliar pada Mei 2008," jelasnya.
Kondisi ini dikatakan Dradjad menyebabkan pasokan valas dalam negeri kurang maksimal, sehingga BI harus berkorban menjaga rupiah. "Kalau pemerintah, likuiditasnya sudah lampu kuning. Makanya pemerintah menahan sebagian proyek-proyek dan global bind yang mahal pun ditabrak," ucapnya.
Itu maksudnya, lanjut Dradjad, dengan kondisi likuiditas pemerintah seperti saat ini, mustinya rupiah sudah terkoreksi tajam. Apalagi dana ekspor yg disimpan di luar negeri tinggi.
"Kalau rupiah masih stabil, itu karena BI yang berkorban jaga rupiah dengan biaya moneter yang besar. Padahal BI mustinya dapat keuntungan finansial kalau rupiah terdepresiasi," katanya.
(dnl/ir)










































