"Dengan harga minyak menyentuh US$ 140 per barel, kita sudah dekat dengan gejolak minyak ketiga," ujar Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional Nobuo Tanaka seperti dikutip AFP, Jumat (4/7/2008).
Hal itu dicetuskan Nobuo Tanaka usai pertemuan negara industri maju di Madrid, Spanyol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Krisis kedua terjadi di tahun 1979 ketika revolusi Iran terjadi yang kemudian kembali menyulut resesi global.
Kini ancaman krisis minyak ketiga terjadi bukan karena ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran tapi akibat spekulasi yang menguat. Pialang minyak dinilai melakukkan transaksi jual dan beli minyak berdasarkan spekulasi dan rumor-rumor.
Negara pengkespor minyak terbesar yakni Arab Saudi mengkhawatirkan tingginya harga minyak. Arab pun langsung menginginkan adanya dialog antara negara konsumen dan produsen minyak.
Namun apa daya, dalam pertemuan kalangan negara industri maju di Spanyol yang berakhir Kamis kemarin gagal membuat konsensus mengenai kebijakan apa yang diambil untuk mengatasi tingginya harga minyak yang menembus US$ 146 Kamis 3 Juli kemarin.
Tidak ada upaya kritis untuk mencari solusi pasar. Di satu sisi negara konsumen mengeluhkan terbatasnya suplai minyak, di sisi lain, produsen minyak menyalahkan spekulator dan merosotnya dolar. (ddn/ir)











































