Penyelundupan Tekstil Bermodus Kloning Kian Marak

Penyelundupan Tekstil Bermodus Kloning Kian Marak

- detikFinance
Jumat, 04 Jul 2008 10:25 WIB
Penyelundupan Tekstil Bermodus Kloning Kian Marak
Jakarta - Penyelundupan produk tekstil dengan modus kloning di kawasan berikat semakin menggila. Produsen tekstil dalam negeri memperkirakan modus yang terbilang baru ini sulit di lacak oleh kalangan Bea Cukai karena begitu licin dan rapihnya operasi kerja mereka.
 
Demikian dikatakan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy saat dihubungi detikFinance, Jumat (4/7/2008).
 
"Modus kloning di kawasan berikat masih kita terus selidiki, karena selain memanfaatkan kelemahan aparat, modus ini juga cukup sulit dilacak," katanya.

Teknis kerja para penyelundup dengan kloning ini, menurut Ernovian, sangat apik dan rapi. Ia menjelaskan, kloning dilakukan dengan membuat duplikat mobil kontainer mirip seperti aslinya. Sehingga mobil kontainer yang berasal dari pelabuhan dengan memuat produk tekstil akan dibajak ditengah jalan sebelum sampai di kawasan berikat.
 
"Yang diangkut ke kawasan itu, produk lain, atau sebagian kecil saja. Tetapi tektil yang sesungguhnya sudah dipindahkan dengan mobil yang sama persis dengan mobil kontainer," katanya.
 
Sebelum kontainer masuk pelabuhan, para penyelundup telah melakukan komunikasi mengenai warna kontaener. Kemudian kawanan mereka yang ada di darat segera membuat duplikat warna dari kontainer tersebut, setelah itu menunggu dilokasi tertentu untuk memindahkan isi muatan tekstil.
 
Dikatakan Ernovian, kloning merupakan salah satu dari sekian banyak modus penyelundupan seperti manipulasi nomor HS, pelabuhan-pelabuhan kecil, bandara udara dan lain-lain.
 
Hingga kini modus kloning ini kerap dilakukan dan sangat efektif digunakan oleh para penyelundup di wilayah kawasan berikat.
 
"Potensi penyelundupan melalui modus kloning bisa 30% dari perkiraan produk tekstil ilegal yang masuk ke Indonesia," kiranya.
 
Selain modus kloning, Ernovian juga mencatat modus penyelundupan melalui bandara udara Soekarno Hatta pun cukup banyak. Walaupu tidak dalam jumlah besar tetapi hingga kini praktek semacam itu masih berlangsung.
 
"Kalau satu koper bisa memuat 20 kg, lalu dalam satu hari bisa beberapa orang, bisa kebayangkan berapa jumlahnya," ucapnya.
 
Ia merinci lebih lanjut, hingga kini dari total konsumsi produk tekstil di pasar domestik yang mencapai 1,2 juta ton tekstil per tahun, sekitar 500.000 ton dipenuhi oleh produksi dalam negeri dan impor resmi.
 
"Artinya ada sekitar 700.000 ton yang kita tidak tahu dari mana asalnya," ungkapnya.
 
Ia menambahkan penyelundupan tekstil asal China dan Taiwan yang menyerbu pasar Indonesia sangat berdampak pada kinerja industri tekstil lokal.
 
Ditengah krisis energi seperti listrik dan batubara, pengusaha tekstil pun dihadapi dengan masalah tren kenaikan suku bunga pinjaman bank.
  (hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads