"Negara berkembang di Asia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak karena ketergantungannya pada impor minyak dan tingkat efisiensi energi yang rendah," ujar Presiden ADB, Haruhiko Kuroda seperti dikutip dari AFP, Jumat (4/7/2008).
Harga minyak kemarin menembus level tertingginya di US$ 146 per barel, dan merontokkan mayoritas bursa Asia. Tingginya harga minyak itu sekaligus memunculkan lonjakan inflasi di seluruh dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Risikonya bisa lebih besar jika harga minyak terus melonjak tanpa bisa dikontrol lagi," tambah Kuroda.
Namun negara-negara berkembang di Asia masih bisa menghindar dari perlambatan ekonomi termasuk menghindari berulangnya krisis ekonomi babak kedua.
"Dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan subsidi BBM telah dihapuskan bertahap, maka tingginya harga minyak akan memberikan dampak yang lebih bisa dikenali pada konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini dan 2009," ujar Kuroda.
Ia mengaku tetap optimistis kawasan Asia bisa mencatat pertumbuhan yang mantap. Kuroda yakin kemerosotan pertumbuhan ekonomi di Asia belum akan terjadi.
"Saya tentu saja yakin bahwa krisis yang menyerupai krisis finansial Asia 10 tahun silam akan terjadi lagi di kawasan ini," ujarnya mantap.
Anda setuju dengan Kuroda?
(qom/ir)











































