Peringkat Negara Dunia Sulit Naik Karena Krisis Global

Peringkat Negara Dunia Sulit Naik Karena Krisis Global

- detikFinance
Sabtu, 05 Jul 2008 14:49 WIB
Peringkat Negara Dunia Sulit Naik Karena Krisis Global
Jakarta - Ketidakpastian perekonomian global tahun ini akan membuat semua negara di dunia sulit memperbaiki peringkatnya. Di tengah kondisi kualitas kredit yang secara global relatif memburuk lembaga pemeringkat cenderung menurunkan (downgrade) rating lebih besar daripada meningkatkan (upgrade) rating.

Selain itu, kecenderungan lembaga pemeringkat untuk melakukan penilaian negative outlook lebih besar daripada positive outlook.

Demikian hasil kajian Biro Hubungan dan Studi Internasional, Direktorat Internasional Bank Indonesia dalam laporan perkembangan ekonomi keuangan dan kerjasama internasional triwulan I-2008, yang detikFinance kutip Sabtu (5/7/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BI mencatat pendapat Moody's yang mengatakan, terdapat 3,8% issuer sedang dalam tahap review untuk downgrade dan hanya 1,8% issuer kemungkinan mengalami upgrade pada triwulan I-2008. Bahkan khusus untuk kawasan Asia, issuer dengan outlook negatif berjumlah jauh lebih besar dari issuer dengan outlook positif.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kajian oleh Standard and Poors dikemukakan bahwa 27 dari 42 emerging market yang di-rating oleh lembaga pemeringkat akan mengalami perlambatan hingga 2009.

Beberapa negara sudah mengalami penurunan peringkat dari lembaga pemeringkat internasional. Seperti Srilanka yang pada April 2008, dimana Fitch menurunkan ratingnya 1 notch dari BB-/negatif menjadi B+/stable. Penurunan tersebut merefleksikan peningkatan vulnerabilitas sebagai akibat inflasi, defisit fiskal, dan dampak kenaikan harga minyak. Selain itu, dari sisi politik, konflik berkepanjangan dengan separatis Macan Tamil mengindikasikan kekurang-mampuan Pemerintah dalam mengatasi gejolak politik dalam negeri.

Vietnam yang oleh Standard and Poor's diturunkan outlook sovereign credit rating dari stable menjadi negative pada awal Mei 2008. Sebagai salah satu negara di Asia dengan perekonomian yang tumbuh pesat, Vietnam menghadapi inflasi yang sangat tinggi dan defisit perdagangan yang semakin melebar. Inflasi di April 2008 tercatat 21% yoy.

S&P juga menurunkan rating outlook Turki menjadi BB/negatif. Hal ini merefleksikan potensi penurunan ketahanan eksternal financing negara itu akibat inflasi yang jauh lebih tinggi selain depresiasi mata uang Lira dan kondisi politik yang belum kondusif. Depresiasi Lira lebih lanjut dikhawatirkan akan memicu lembaga pemeringkat lain untuk turut menurunkan outlook Turki.

Namun BI juga mencatat kondisi perekonomian global yang kurang kondusif tidak selalu berdampak buruk pada semua negara. Terbukti, terdapat beberapa negara yang justru pada masa sulit ini dapat mengatasi gejolak eksternal dengan baik dan mengalami upgrade menjadi investment grade seperti Peru (BB+ menjadi BBB- oleh Fitch) dan Brazil (BB+ menjadi BBB- oleh S&P).

Beberapa tahun lalu Brazil masih dalam satu group dengan Indonesia. Pada tahun 2005 rating yang diberikan Fitch untuk Brazil sama dengan Indonesia yaitu BB-/positive. Namun dalam perkembangannya selanjutnya, Brazil melesat maju dalam waktu singkat dan mencapai peringkat investment grade (BBB-) di awal Mei 2008 dari S&P.
(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads