Peringkat investment grade akan membuka kesempatan bagi pemerintah dan sektor swasta untuk memperoleh akses pembiayaan dengan biaya yang lebih rendah pula. Sovereign credit rating suatu negara juga akan mempengaruhi rating assessment korporasi, meski kondisi kinerja perusahaan tersebut tetap menjadi pertimbangan utama.
Baik pemerintah dan Bank Indonesia menyadari pentingnya pencapaian peringkat. Oleh karena itu dalam rangka memperkuat memperkuat koordinasi, pemerintah dan Bank Indonesia telah menuangkan kesepakatan dalam bentuk MoU yang mentargetkan setidaknya pada 2009 Indonesia dapat mencapai kategori investment grade bagi sovereign credit rating Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini lembaga rating internasional Standard & Poor's dan Moody's memberikan rating yang sama kepada RI yakni BB-/stable dan Ba3/stable. Sementara itu, Fitch baru saja melakukan upgrade dengan memberikan rating BB/stable kepada RI.
Dari level rating RI saat ini, setidaknya diperlukan dua kali upgrade sebelum mencapai level terendah investment grade (BBB-/Baa3). Hal ini tidak mudah didapat karena berdasarkan pengalaman Indonesia, untuk mendapatkan dua kali upgrade dibutuhkan waktu 3 tahun dari S&P, 5 tahun dari Fitch, dan 8 tahun dari Moody's.
"Indonesia optimistis dapat mencapai investment grade setidaknya pada tahun 2010. Keyakinan ini didasari dengan mempertimbangkan berbagai aspek kuantitatif, yaitu perbandingan indikator-indikator makro baik dengan median lowest investment grade maupun dengan peer-group Indonesia," ulas BI.
Penilaian sovereign credit rating didasarkan pada penilaian kuantitatif dan kualitatif untuk memprediksi kemampuan membayar kewajiban secara tepat waktu dan dalam jumlah yang sesuai. Khusus untuk negara berkembang, aspek kuantitatif yang dinilai meliputi (1) performa ekonomi makro dan prospeknya, (2) sustainabilitas neraca pembayaran, (3) struktur ekonomi yang akan
mempengaruhi vulnerabilitas perekonomian terhadap shock, (4) public finance termasuk struktur dan public debt sustainability serta debt financing, dan (5) performa sektor keuangan khususnya sektor perbankan. Namun, aspek dominan penilaian rating juga dapat ditentukan oleh karakteristik ekonomi suatu negara.
Beberapa perhatian utama lembaga rating sebagaimana disampaikan dalam wrap-upassessment S&P pada kunjungan tahunan Maret 2008 lalu adalah (1) dampak gejolak ekonomi global termasuk kenaikan harga komoditi dunia terhadap perekonomian Indonesia, (2) inflasi, (3) beban keuanganpemerintah, dan (4) pertumbuhan ekonomi.
(ir/ir)











































