Saat ini lembaga rating internasional Standard & Poor's dan Moody's memberikan rating yang sama kepada RI yakni BB-/stable dan Ba3/stable. Sementara itu, Fitch baru saja melakukan upgrade dengan memberikan rating BB/stable kepada RI.
Pemerintah dan Bank Indonesia telah menuangkan kesepakatan dalam bentuk MoU yang mentargetkan setidaknya pada 2009 Indonesia dapat mencapai kategori investment grade bagi sovereign credit rating Indonesia. Namun BI melihat Indonesia baru bisa mencapai investment grade pada tahun 2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor-faktor yang dapat menjadi pendukung peningkatan rating Indonesia adalah pertama, kondisi likuiditas eksternal yang menguat melalui surplus neraca berjalan dan membaiknya iklim investasi. Kedua, reformasi yang dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi secara sustainable dan berkurangnya tingkat utang. Ketiga, perbaikan dalam hal transparansi sektor publik. Keempat, adanya contingency planu ntuk mengatasi kondisi sulit.
Sementara itu, faktor-faktor yang dapat menurunkan rating Indonesia adalah pertama, memburuknya kondisi fiskal. Kedua, lambatnya proses reformasi sehingga menghambat masuknya FDI (investasi langsung asing) yang sebagai salah satu penggerak pertumbuhan. Ketiga, risiko meningkatnya beban utang akibat besarnya perkiraan lembaga rating akan contingentliability pemerintah. Keempat, melemahnya cadangan devisa.
Menurut BI, lembaga rating mengambil kesimpulan sementara bahwa ekonomi Indonesia dalam 5 tahun terakhir telah menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan terutama dalam konsolidasi fiskal, stabilitas ekonomi makro, dan koordinasi pengelolaan kebijakan moneter dan fiskal yang berhati-hati.
Perekonomian Indonesia terbukti cukup tangguh dalam menghadapi dampakfirst round dari gejolak eksternal. Di samping itu, sektor perbankan juga dinilai telah menunjukkan kondisi yang kuat dan stabil.
Namun demikian, secara umum lembaga rating internasional masih belum yakin dan perlu melihat kembali apakah perekonomian Indonesia juga cukup kokoh menghadapi dampak second round. Dalam kaitan ini fokus utama lembaga rating terhadap Indonesia adalah pertama, inflasi, terutama inflasi makanan dan dampaknya terhadap penduduk miskin. Kedua, kebijakan moneter dan dampaknya terhadap risiko terjadinya portfolio outflows terutama karena besarnya jumlah kepemilikan asing di pasar saham dibandingkan dengan cadangan devisa. Ketiga, anggaran, terutama terkait dengan risiko pembengkakan beban subsidi yang dapat berakibat peningkatan defisit anggaran yang selanjutnya memperbesar kemungkinan peningkatan jumlah pinjaman luar negeri yang memperbesar beban keuangan pemerintah.
Dengan berbagai argumen tersebut, lembaga rating khususnya S&P mempertahankan sikap optimistis yang berhati-hati (cautious optimistic) terhadap Indonesia. Status ini telah dipertahankan S&P dalam dua tahun terakhir. Namun demikian, S&P akan melakukan monitor yang lebih intensif terhadap risiko jangka pendek Indonesia. Setelah melihat perkembangan dari krisis global dan dampaknya kepada Indonesia, tampaknya tidak banyak tekanan negatifterhadap rating Indonesia.
Oleh karena itu, diharapkan rating action yang lebih positif dapat diberikan oleh lembaga rating kepada Indonesia. Jika perekonomian Indonesia dalam beberapa bulan ke depan mampu bertahan dan kondisi ketidakpastian global mulai berkurang, S&P diharapkan akan memberikanupgrade rating. Peningkatan tersebut diharapkan diikuti dengan tindakan yang sama oleh lembaga rating lainnya.
(ir/ir)










































