Demikian dikatakan oleh Ketua Umum Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia (Foppi) Sujianto dalam jumpa pers di Plaza Foppi, Blok M Jakarta, Minggu (6/7/2008).
"Kenaikan BBM, daya beli melemah dampaknya sejauh diikuti oleh kenaikan barang-barang, rata-rata 40% memangkasa omzet kami," keluhnya.
Akibat daya beli yang melemah banyak konsumen yang mencoba mensiasati kenaikan harga tersebut dengan mencoba membeli barang-barang kebutuhan di pasar-pasar moderen.
Maklum selama ini harga barang-barang di ritel modern lebih miring, walhasil makin membuat terpuruk pedagang pasar tradisional.
"Pasar modern sudah menjadi wisata belanja, artinya adanya pergeseran konsumen untuk memilih tempat yang lebih bagus, memicu pergeseran, daya beli yang rendah mendapat kan harga lebih murah terutama setelah kenaikan BBM," ucapnya.
Bahkan ia mengatakan tertekannya pasar tradisional bukan hanya masalah persaingan usaha menyangkut harga, lokasi, pelayanan melainkan adanya skandal-skandal persaiangan usaha yang tidak sehat seperti melakukan pembakaran-pembakaran pasar untuk menyingkirkan pasar tradisional.
"Kasus-kasus kebakaran pasar Tanah Abang, Blok M, Pasar Turi, Cipanas Bogor, menyangkut pengembang selanjutnya. Misalnya setelah kebakaran di Tanah Abang ada pengembang yang tidak melibatkan para pedagang," keluhnya.
Hingga kini Foppi telah melakukan gugatan-gugatan termasuk masalah kasus kebakaran pasar Blok M kepada pihak Carrefour, PD JAYA, bahkan Gubernur DKI untuk menolak berdirinya Carrefour di Blok M.
"Tren modus setelah kebakaran ini, masuknya para peritel moderen seperti Carrefour," tambahnya.
Secara nasional sekarang ini terdapat 13.636 pasar tradisional yang mencakup kurang lebih 42 juta pedagang, termasuk di Jakarta terdapat 151 pasar tradisional.
(hen/ddn)











































