"Negara-negara miskin merasakan dampak yang serius dari melonjaknya harga pangan dan energi," ujar Dirjen FAO Jacques Diouf seperti dikutip dari situs FAO, Senin (7/7/2008).
Diouf menyatakan, krisis pangan saat ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor seperti meningkatnya permintaan produk pertanian sehubungan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perkembangan ekonomi negara-negara berkembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tren-tren tersebut diperparah dengan berbagai kebijakan penghambat yang diambil oleh sejumlah negara eksportir untuk melindungi konsumennya serta faktor spekulasi di pasar berjangka," jelas Diouf.
Sementara investasi pertanian yang mahal telah menghambat peningkatan produksi di negara-negara berkembang. Dari Januari2007 hingga April 2008, misalnya, harga pupuk telah melonjak lebih cepat daripada harga pangan.
Ia menegaskan, produksi pangan dunia harus naik dua kali lipat hingga 2050. Dan kenaikan produksi pangan tersebut terutama harus dilakukan oleh negara-negara berkembang.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi ke depan untuk pengembangan produk pangan tidaklah mudah. Dunia kini menghadapi susahnya kontrol air dan perubahan iklim. Sementara lahan pertanian terus berkurang.
FAO melansir, sekitar 5-10 juta hektar lahan pertanian setiap tahun berkurang. Namun di Afrika, Amerika Latin dan Asia Tengah, ada lahan yang potensial untuk pengembangan pertanian.
"Pemerintah dan para petani juga harus bisa menghadapi pengaruh perubahan iklim terhadap pertanian. Jika temperatur naik lebih dari 3 derajad, maka hasil panen bisa turun sekitar 20-40% di Afrika, Asia dan Amerika Latin," imbuhnya.
Diouf menambahkan, situasi pangan terkini merupakan refleksi dari ketidakpedulian komunitas internasional terhadap investasi pangan yang sudah berlangsung sejak lama.
"Bagian dari utang lunak untuk pertanian turun dari 17% di 1980 menjadi hanya 3% di tahun 2006. Sementara investasi di bidang riset pertanian di negara berkembang kurang dari 0,6% dari PDB, dibandingkan lebih dari 5% di negara OECD," imbuhnya.
Untuk itu, seluruh negara di dunia termasuk institusi internasional harus menggalan kerjasama lebih erat untuk melawan tingginya angka kelaparan.
(qom/ir)











































