"Semester I-2008, penjualan mobil Toyota sebanyak 98.167 unit, tumbuh sekitar 42% dari semester I tahun lalu," ungkap Division Head Marketing Planning & Customer Relation Division TAM, Widyawati, usai acara di Penang Bistro, Jl Kebon Sirih Raya, Jakarta, Senin (7/7/2008).
Angka penjualan tersebut, terutama didongkrak oleh penjualan produk andalan TAM yakni Avanza dan Innova. Sepanjang semester satu, Avanza telah terjual sebanyak 36.658 unit, sedangkan Innova sebanyak 27.495 unit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pangsa pasar Toyota di semester satu lalu sebesar 33,8%. Hingga akhir tahun, Toyota menargetkan pangsa pasar minimal sama seperti posisi tahun lalu yaitu sebesar 34,8%.
"Untuk penjualan semester dua, kami akan berusaha mempertahankan jumlah yang sama seperti semester satu," ujar Widyawati.
Posisi penjualan Toyota di akhir 2008 akan diprediksi mencapai 196.334 unit. Jika pada awal tahun 2008, proyeksi penjualan mobil nasional sebesar 500 ribu unit, maka dengan angka 196.334 unit tersebut, Toyota akan menguasai pangsa pasar sebesar 39,26%. Jauh lebih tinggi dari yang ditargetkan.
"Kami belum merevisi target. Karena ada kenaikan BBM dan kenaikan BI Rate. Jadi kami harus melihat kondisi pasar lebih jauh lagi," ujarnya.
Namun ia optimis penjualan mobil Toyota akan mencapai target. Sebab, kenaikan BBM dan BI Rate beberapa waktu lalu, tidak memberi dampak pada industri penjualan mobil.
"Sejauh ini kami belum melihat dampak buruk. Malah tumbuh lebih dari yang kami perkirakan," ujarnya.
Menurut Widyawati, hal tersebut dikarenakan kenaikan BBM dan BI Rate kali ini, diiringi dengan pertumbuhan sektor riil, sehingga GDP juga tumbuh.
"Waktu BBM naik tahun 2005, yang tumbuh adalah sektor konsumsi, sehingga waktu itu industri mobil cukup terkena dampak. Namun tahun ini kenaikan tersebut diiringi pertumbuhan sektor riil sehingga GDP juga menguat," ulas Widyawati.
Dia menambahkan, komposisi pembeli dengan kontan dan kredit dalam indutri mobil masih seimbang. Jadi pengaruh BI Rate masih belum memberi dampak yang negatif.
"Komposisi pembeli cash dan kredit masih 50:50. Jadi jika BI Rate masih di bawah 10%, saya rasa pengaruhnya ke industri ini tidak begitu terasa," ujar Widyawati. (dro/ir)










































