Namun ada beberapa sektor industri yang berbasis IKM yang akan terkena imbas terparah yaitu IKM konveksi dan garmen.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian (Depperin) Fauzi Aziz usai acara rapat dengar pendapat dengan komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (7/7/2008).
"Masalah krisis listrik sektor garmen dan konveksi yang paling terpengaruh," katanya.
Sektor IKM lebih fleksibel dan mudah menyesuaikan apabila terjadi pemadaman listrik karena ada upaya dari mereka untuk mengalihkan pengerjaan di lain waktu tanpa memperhitungkan upah kerja karyawan.
"Ada upaya menutup loss pada siang hari ke malam hari, yang penting pengiriman ke konsumen seperti ke Tanah Abang tidak terhambat," katanya.
Namun ia juga memastikan apabila terjadi masalah pemadaman dalam kurun waktu yang lama misalnya 2- hingga 3 hari, tentunya akan terkena imbas pula.
"Karena yang kasihan adalah para buruh, karena mereka memakai nilai volume penerimaan upah dari produksi yang dihasilkan buruh," paparnya.
Krisis listrik nampaknya bukan menjadi masalah serius bagi sektor IKM terutama untuk sektor-sektor yang bergerak dibidang konveksi, garmen dan lain-lain. Namun justru kenaikan BBM menjadi masalah yang serius bagi sektor ini.
Berikut ini rincian beberapa dampak kenaikan BBM terhadap biaya produksi dan harga jual produk IKM. Untuk biaya produksi IKM pangan meningkat 11% hingga 17%, terutama untuk sektor pengguna bahan bakar minyak tanah.
Untuk sektor kimia dan bahan bangunan misalnya untuk produksi minyak nilam dan akar berdampak pada pengaruh harga jual 12,24% hingga 16,63%.
Untuk IKM batu bata mempengaruhi harga jual 12,77%, untuk genteng berpengaruh pada harga jual 11,55%.
(hen/ddn)











































