Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo, dalam pesan singkat yang diterima wartawan, Selasa (8/7/2008).
"Kalau pemerintah membiarkan realisasi anggaran begitu lamban seperti sekarang, merealisasikan target pertumbuhan menjadi makin sulit," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Â
"Kadin prihatin. Besaran realisasi belanja barang/modal yang msh rendah itu mencerminkan betapa lambannya proses pembangunan kita. Tidak dinamis," ujarnya.
Padahal, porsi belanja K/L sangat signifikan dalam variabel Konsumsi dalam negeri. Apalagi jika ditambah dengan belanja daerah dan belanja rumah tangga.
"Akumulasi tiga variabel itu akan menjadikan Konsumsi dalam negeri sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Terlebih jika belanja K/L dan daerah itu memprioritaskan produksi dalam negeri," ujarnya.
Â
Kalau realisasi anggaran sangat lamban, sementara konsumsi dalam negeri dipastikan anjlok karena merosotnya daya beli rakyat, perekonomian kita terancam kehilangan motor pertumbuhannya.
Oleh karena itu, APBN 2008 perlu direvisi kembali, antara lain dengan agenda penghematan anggaran kementerian dan lembaga.
"Kalau memang APBN-P 2008, perlu direvisi kembali. Inilah saatnya. Agar ada cukup waktu untuk merealisasikan penyerapannya sebelum tutup tahun," ujarnya.
(dnl/ddn)











































