Kekhawatiran itu dipicu oleh kejatuhan saham di bursa global terutama Asia dan Eropa pada perdagangan Selasa (8/7/2008) meski saham di AS akhirnya mengalami rebound.
Harga minyak yang pekan lalu sempat menyentuh US$ 147 per barel dalam dua hari terakhir mengalami koreksi yang lumayan. Apalagi setelah negara-negara kaya yang tergabung dalam Group of Eight (G8) mulai memperingatkan akan tingginya biaya minyak jika harga tak bisa diredam dan menyerukan penambahan lebih banyak produksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan harga minyak di London jenis Brent North Sea untuk pengiriman Agustus turun US$ 5,44 menjadi US$ 136,43 per barel.
Harga minyak tertekan cukup dalam karena pelaku pasar kembali cemas pada masalah kesehatan ekonomi dunia karena jatuhnya kembali saham-saham akibat anjloknya sektor perbankan.
"Ekonom melihat suramnya ekonomi dunia akan membuat permintaan terhadap minyak berkurang yang selanjutnya akan mempengaruhi harga," kata analis dari Sucden, Nimit Khamar seperti dilansir dari AFP, Rabu (9/7/2008).
Saham-saham di pasar global terutama di Asia mengalami penurunan tajam, bahkan pasar saham di Prancis terendah dalam tiga tahun terakhir menyusul kerugian yang besar di Asia dan AS.
Saham-saham sektor finansial kembali merosot dipicu oleh anjloknya saham Fannie Mae dan Freddie Mac, yang kembali mengingatkan investor akan rentannya pasar kredit global.
(ir/ir)











































