"Permintaan minyak ke depan diperkirakan akan melunak akibat pemangkasan subsidi di banyak negara. Hal tersebut akan mendorong penurunan demand minyak, apalagi di negara-negara emerging market yang terkena dampak cukup besar akibat kenaikan harga minyak," ujar Chief Investment Officer Deutsche Bank Private Wealth Management, Chew Soon Gek dalam paparan di hotel Grand Hyatt, Jl MH Thamrin, Jakarta, Selasa (8/7/2008).
Harga minyak mentah dunia yang kini sudah mencapai US$ 140 per barel, diperkirakan akan bertahan disebabkan menurunnya cadangan minyak di negara OPEC, rendahnya investasi, dan masalah politik di beberapa negara penghasil minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya tren harga minyak sangat ditentukan oleh posisi cadangan minyak OPEC, iklim investasi dan keadaan politik di berbagai negara penghasil minyak.
"Melihat kondisi belakangan ini, kami melihat ada penurunan posisi cadangan minyak di negara OPEC, rendahnya investasi, dan masalah politik di beberapa negara penghasil minyak, sehingga akan menyebabkan harga minyak cenderung bertahan," urai Gek.
Dia juga mengatakan kenaikan harga minyak dunia yang kini bertengger pada kisaran US$140 per barel lebih berdampak pada inflasi daripada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Berdasarkan sejarah di indonesia, 10 persen kenaikan harga minyak akan berdampak pada 0,1 persen pertumbuhan dan 0,4 persen inflasi," papar Gek.
Gek mengatakan, Indonesia sebagai negara berkembang Asia akan mengalami resiko perlambatan pertumbuhan cukup kecil dibanding negara lainnya di kawasan seperti Filipina, Thailand dan India.
Sebab, Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama minyak bumi, gas alam dan batubara yang tengah mengalami "booming" permintaan, cukup diuntungkan dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini.
"Oleh karenanya secara umum, Indonesia masih cukup bagus untuk berinvestasi di sektor-sektor komoditas, karena tingkat return-nya masih menjanjikan," ujarnya.
(dro/ir)











































