"Porsi MEDC di 7 proyek tersebut berkisar antara US$ 1,5-2 miliar. Dananya dari hasil penjualan APEX, divestasi 7 blok di Natuna, Jawa dan Sumatera dan pendanaan eksternal," ujar Presiden Direktur MEDC, Darmoyo Doyoatmojo, di restoran Sari Kuring, SCBD, Jakarta, Kamis (10/7/2008).
Total nilai 7 proyek tersebut diperkirakan sebesar US$ 3 miliar. Menurut Darmoyo, porsi investasi MEDC di 7 proyek tersebut berkisar US$ 1,5-2 miliar. Medco akan mengikutsertakan berbagai pihak seperti Mitsubishi, Pertamina dan sebagainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan asumsi tersebut, komposisi pendanaan internal akan berkisar antara US$ 500-670 juta. Sumber pendanaan kas internal dari hasil penjualan APEX dan divestasi 7 blok.
"Hasil penjualan APEX sekitar US$ 340 juta, jadi kekurangannya sekitar US$ 160-330 juta," ujar Direktur Keuangan MEDC, Cyrill Noerhadi.
Penjualan 1.287.045.106 saham MEDC di APEX pada harga Rp 2.450 per saham, berhasil meraup dana sebesar Rp 3,153 triliun, setara dengan US$ 340,893 juta.
Sayangnya Cyrill enggan membeberkan nilai divestasi 7 blok perseroan, sehingga belum dapat diperkirakan berapa kekurangan porsi kas internal dalam 7 proyek tersebut.
"Angkanya tidak bisa kami disclose. Namun yang jelas dari dana divestasi 7 blok dan APEX, kami bisa memulai pengerjaan 7 proyek secara bertahap," ujar Cyrill.
Rincian 7 blok yang didivestasikan MEDC antara lain blok Rimau dan Lematang di Sumatera, Kakap dan Langsa di Natuna, Tuban, Bawean dan Lapangan Jeruk di Jawa.
Sementara 7 proyek terdepan MEDC adalah 3 proyek gas di Lematang, Blok A dan Senoro, kemudian minyak di blok 47 Libya, Enhanced Oil Recovery (EOR) di Rimau, Pabrik Ethanol di Lampung dan pembangkit tenaga panas bumi di Sarula.
Mengenai porsi pendanaan eksternal yang diperkirakan antara US$ 1-1,33 miliar, rencananya akan diperoleh dari berbagai opsi.
"Kami membidik pinjaman, project financing atau penerbitan obligasi rupiah," ungkap Cyrill.
Cyrill mengungkapkan, berbagai opsi pendanaan eksternal tersebut akan dilakukan secara kombinasi sesuai kebutuhan masing-masing proyek.
"Misalnya, ADB dan JBIC biasanya mereka tertarik pada project financing yang terkait dengan gas. Penerbitan obligasi juga tergantung hasil opsi-opsi lainnya," ujar Cyrill.
(dro/qom)










































