Depperin Gencarkan Teknologi Hemat BBM

Depperin Gencarkan Teknologi Hemat BBM

- detikFinance
Jumat, 11 Jul 2008 14:25 WIB
Depperin Gencarkan Teknologi Hemat BBM
Jakarta - Tingginya konsumsi BBM tidak bisa diselesaikan hanya dengan menekan produksi mobil, melainkan dengan pengembangan teknologi hemat BBM. Karenanya, Depperin akan terus berupaya mengembangkan teknologi hemat BBM.

"Jadi masalah BBM, pemecahannya adalah masalah penghematan," kata Menperin Fahmi Idris dalam acara pembukaan IIMS ke-16, di JCC, Jakarta, Jumat (11/7/2008).

Acara IIMS ke-16 ini sedianya dibuka oleh Presiden SBY. Namun menurut Fahmi, presiden berhalangan karena baru tiba dari kunjungan ke Jepang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beliau sangat menghargai pertumbuhan industri otomotif, setiap datang selalu memperhatikan," kata Fahmi.

Dalam kesempatan tersebut, Fahmi mengungkapkan beberapa hal yang berkaitan dengan sektor otomotif. Pertama adalah masalah BBM.

"BBM sampai saat ini tidak ada yang memprediksi kenaikan BBM di internasional, dunia otomotif menghadapinya. Kemarin di AS per galon 4,10 dolar, artinya Rp 12.000 per liter sehingga masyarakat AS mengurangi penggunaan BBM," jelasnya.

Dengan kenaikan harga BBM, lanjut Fahmi, selanjutnya muncul wacana untuk mengurangi produksi motor dan mobil. Namun menurut Fahmi, yang harus dipecahkan adalah masalah penghematan energi dan bukan mengurangi produksi. Dan sejumlah orang sudah sukses memecahkan masalah penghematan BBM itu.

Ia pun mencontohkan sebuah bengkel di Banyuwangi yang sukses membuat konverter sehingga bisa menekan konsumsi BBM dari rasio 1:15 (1 liter untuk 15 km) menjadi 1:20.

"Depperin sedang melakukan penelitian, bukan menekan produksi tetapi pendekatan teknologi pengematan yang bisa dilakukan oleh banyak pihak," jelasnya.

Masalah kedua adalah mengenai suplai listrik yang hingga kini masih tersendat-sendat. Suplai listrik di Jawa saat ini mencapai 20.000 MW. Pemerintah sudah sepakat untuk menyamakan permintaan dan suplai listrik.

"Untuk itu pemecahannya dengan memakai pendekatan industri tidak boleh terkena pemadamannya, ada 2.000-3.000 MW ada idle capacity, sehingga perlu ada pemidahan waktu kerja ke Sabtu dan Minggu. Ini kebijakan sementara, pemerintah sedang mengadakan daya tambahan 10.000 yang selesai pada pertengahan 2010 atau akhir 2009. 6.000 untuk Jawa dan 4.000 di luar Jawa," urai Fahmi.

Ketiga, masalah lingkungan hidup, Menurut Fahmi, harus dikembangkan teknologi untuk meminimalisir dampak industri terhadap dampak lingkungan, termasuk penggunaan energi alternatif.
(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads