Direktur Pembangkit Jawa Bali PLN Murtaqi Syamsudin menjelaskan, dari target awal penghematan subsidi sebesar Rp 2,7 triliun, kemungkinan yang bisa dicapai hanya Rp 2 triliun.
"Kebijakan ini tetap tidak membuat pelanggan jera. Karena mereka berpikir meskipun ada kebijakan tarif non subsidi ternyata masih bisa bayar, jadi pemakaian 2 bulan ini tidak terjadi pengurangan," ujarnya ketika dikonfirmasi, Minggu (13/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita inginnya mereka berhemat sehingga kita bisa menghemat biaya BBM," tambahnya.
Apalagi saat ini harga BBM terus melambung hingga menembus US$ 147 per barel. Akibatnya PLN memprediksi subsidi listrik yang harus ditanggung pemerintah bisa melonjak dari Rp 60 triliun menjadi Rp 80 triliun.
Dirut PLN Fahmi Mochtar sebelumnya menyatakan, biaya produksi listrik PLN sebenarnya mencapai Rp 1.200 per Kwh, tapi dijual ke masyarakat hanya seharga Rp 630 per Kwh.
"Itulah mengapa subsidi kita sangat besar. Padahal kalau menaikkan tarif listrik itu bukan wewenang kita," pungkasnya.
(lih/iy)











































