Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari dalam acara konferensi pers persiapan Pameran Bursa komponen dan pameran industri logam dan permesinan (MTT 2008) di Gedung Departemen Perindustrian (Depperin) Jakarta, Senin (14/7/2008).
"Dari pemerintah mendorong agar membeli yang baru, karena lebih berhemat. Pemerintah inginnya yang baru, soal bekas diberikan hanya tertentu saja," kata Ansari.
Ditambahkan Ansari, penggunaan mesin baru bukan hanya menghemat penggunaan energi, tetapi juga akan meningkatkan produksi industri.
Selain itu juga, dengan menggunakan mesin baru kalangan industri bisa melakukan perencanaan industri jangka panjang, sesuai dengan perkembangan pasar dan kebutuhan pasar.
Selama ini menurut Ansari, ada beberapa perusahaan yang memang mengimpor mesin bekas dengan pertimbangan memanfaatkan jaringan perusahaan mereka di luar negeri. Tapi ada juga yang membeli bekas, karena adanya pengalihan mesin satu dengan satu lainnya dari negara lainnya.
"Mesin-mesin dari Eropa kenaikan harganya lebih tinggi, karena kenaikan kurs euro, memang agak berat untuk mesin dari Eropa, tapi ada perusahaan yang fanatik menggunakan mesin buatan Eropa walaupun mahal," ungkap Ansari.
Ansari mengimbau bagi kalangan industri yang memang tidak mampu membeli mesin standar Eropa bisa saja memanfaakan mesin-mesin dari China dengan harga yang lebih murah.
"Masalah kebijakan mesin bekas impor yang akan dievaluasi lanjut. Kalau bisa 10% konsumsi energi bisa dihemat, seperti restrukturisasi TPT dengan menggunakan mesin baru mencapai 15%-20% penghematan," katanya.
(hen/qom)











































