Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskan, investasi di sektor hilir terutama untuk infrastruktur jadi sangat mendesak karena konsumsi yang terus meningkat.
Ketidaktersediaan infrastruktur yang memadai untuk melayani tingkat konsumsi saat ini membuat berbagai daerah kesulitan mendapat BBM secara lancar. Akibatnya kelangkaan kerap terjadi meski stok BBM cukup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ari, investasi untuk menambah infrastruktur di sektor hilir tidaklah sedikit. Hanya saja, marjin yang dihasilkan dari usaha hilir ini tidak mencukupi untuk mendanai investasi yang dibutuhkan.
Salah satu alasan yang disebutkan Ari mengenai tipisnya marjin di bisnis hilir adalah alpha yang ditetapkan pemerintah sebagai marjin distribusi BBM bersubsidi.
"Yang paling kelihatan ya marjin PSO. Bisa dikatakan kita nggak dapat apa-apa," ujar VP Komunikasi Pertamina Wisnuntoro menambahkan.
Alpha distribusi BBM untuk Pertamina diturunkan dari 14,1% menjadi 13,5% dan kini tinggal 9,5%. Porsi keuntungan perseroan di sisi hilir sekitar sepertiga dari total keuntungan perusahaan.
"Sehingga yang bisa kita lakukan adalah menggunakan marjin dari sisi hulu untuk dipakai di hilir. Padahal, marjin hulu seharusnya dipakai untuk investasi di hulu juga. Dan ini kita harus mengevaluasi lagi keuangan kita, karena sebenarnya ini (investasi hulu) sudah masuk rencana 5 tahunan," kata Ari.
Pengurangan Dividen
Dengan makin banyaknya biaya yang dikeluarkan Pertamina untuk berinvestasi di sisi hilir, sebagai konsekuensi tentu akan mengurangi dividen yang dibayarkan ke pemerintah.
Menanggapi ini, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengemukakan pihaknya memahami tugas Pertamina sebagai pelaksana PSO yang harus menjamin ketersediaan BBM di tiap daerah.
"Memang Pertamina katakan mereka butuh investasi. Ini akan dibicarakan dulu bagaimana penghitungannya. Karena juga terkait konsumsi BBM yang berdampak ke subsidi. Jadi mengenai pembiayaan investasi ini nanti kita bicarakan dengan Pertamina dan Depkeu," ujarnya. (lih/ir)











































