Demikian data FAO dalam Rice Price Update seperti disampaikan Atase Pertanian KBRI Roma Erizal Sodikin kepada detikfinance hari ini, Selasa (15/7/2008).
Data FAO versi 10/7/2008 itu menunjukkan bahwa secara keseluruhan indeks harga beras mengalami penurunan dari 326 pada Mei 2008 menjadi 313 pada Juni 2008, atau mengalami penurunan sekitar 4%. Penurunan juga terjadi pada indeks harga beras jenis Indica maupun Aromatica.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga beras yang diekspor untuk jenis Thai White 100% B 2nd Grade mengalami penurunan dari US$963/ton untuk bulan Mei menjadi US$870/ton untuk bulan Juni. Demikian juga jenis Viet 5% dalam kurun waktu yang sama mengalami penurunan sekitar 13%.
Penurunan juga terjadi untuk harga beras jenis lain seperti Thai Parboiled, Thai 25% Thai A1 Super, Pak 25%. Walaupun begitu beberapa jenis beras lain harganya tetap dan bahkan ada yang meningkat yaitu US Long Grain dari US$978/ton menjadi US$985/ton, sementara Pakistan Basmati harganya tetap US$1110/ton, US California Medium Grain US$926/ton.
Â
Berdasarkan pembicaraan lisan dengan Senior Economist C. Calpe pada Divisi Analisa Pasar dan Harga Komiditi FAO, didapat informasi bahwa penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya pasokan beras ke pasar dunia akibat dari melonggarnya pembatasan ekspor dari beberapa negara produsen utama beras seperti Vietnam dan India.
Di samping itu faktor baiknya tingkat produksi beras di beberapa negara berpenduduk padat termasuk Indonesia juga memberikan kontribusi, khususnya dalam menurunkan tingkat impor.
Â
Menanggapi perkembangan ini, KBRI Roma mengingatkan pemerintah untuk mencermati penurunan harga beras dunia ini mengingat komoditi beras bagi Indonesia adalah komoditi yang sangat strategis baik secara ekonomi maupun politik.
Hal yang khusus untuk dicermati adalah dalam mengambil kebijakan impor dan ekspor beras Indonesia, sehingga dapat diantisipasi upaya para spekulan dalam memanfaatkan penurunan harga ini. (es/es)











































