Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat Laporan Semster I dan Prognosa Semester II APBN-P 2008 bersama Panitia Anggaran DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa malam (15/7/2008).
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir tahun masih bisa terjaga di atas 6% dan masih kuat sampai dengan semester II-2008. Tapi memang di bawah target APBN-P yang mencapai 6,4%," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inflasi menjadi perhatian karena pressure permintaan yang tinggi dengan adanya bulan puasa, Lebaran dan juga natal, serte masih tingginya kecenderungan peningkatan harga pangan dan minyak dunia," tutur Sri Mulyani.
Untuk nilai tukar rupiah, Sri Mulyani mengatakan pada semester II-2008 nilai tukar akan berada di level Rp 9.239/US$ sehingga sampai akhir tahun nilai tukar akan berada di level Rp 9,250/US$. Nilai ini juga di atas perkiraan APBN-P yang menetapkan asumsi nilai tukar sampai akhir tahun sebesar Rp 9.100/US$.
"Rupiah stabil tapi pada level yang lebih tinggi dari asumsi APBN-P yang sebesar Rp 9.100/US$, sentimen negatif global menjadi salah satu faktor yang membayangi," katanya.
Untuk bunga SBI 3 bulan, dikatakannya pada semester II-2008 tingkat suku bunga SBI 3 bulan akan mencapai 10% sehingga perkiraan realisasi akhir tahun adalah sebesar 9,1%.
"Sementara untuk harga ICP, pada semester II-2008 harga ICP diperkirakan rata-ratanya akan mencapai US$ 145/barel sehingga sampai akhir 2008 rata-ratanya adalah US$ 127 per barel, ini jauh di atas asumsi APBN-P yang sebesar US$ 95 per barel," tuturnya.
Satu-satunya asumsi yang diperkirakan akan sesuai target adalah lifting minyak, pada semester I-2008 realisasinya baru mencapai 925 ribu barel per hari, dan pada semester II rata-ratanya akan mencapai 928 ribu barel per hari. "Sehingga sampai akhir tahun akan sesuai target 927 ribu barel per hari, sama seperti target APBN-P," imbuhnya. (dnl/qom)










































