APBN-P 2008 Bakal Melonjak Tajam

APBN-P 2008 Bakal Melonjak Tajam

- detikFinance
Rabu, 16 Jul 2008 10:09 WIB
APBN-P 2008 Bakal Melonjak Tajam
Jakarta - Seiring dengan kenaikkan harga pangan dan minyak dunia yang sangat tajam, anggaran belanja pemerintah pada APBN-P 2008 juga akan melonjak sangat tajam.

Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan realisasi total belanja subsidi pada semester I-2008 mencapai Rp 91,7 triliun, dan pada semester II-2008 akan melonjak tajam menjadi Rp 236,1 triliun, sehingga sampai akhir tahun besaran belanja subsidi adalah sebesar Rp 327,8 triliun.

"Untuk subsidi BBM di semester I sebesar Rp 60,5 triliun, pada semester II diperkirakan mencapai Rp 119,8 triliun. Subsidi listrik di semester I sebesar Rp 26,4 triliun, pada semester II diperkirakan mencapai Ro 62,1 triliun," tuturnya dalam rapat Laporan Semester I dan Prognosa Semester II APBN-P 2008 bersama Panitia Anggaran DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa malam (15/7/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lonjakan beban subsidi yang besar juga akan terjadi pada subsidi non energi dimana pada semester I mencapai Rp 4,8 triliun dan pada semester II diperkirakan akan melonjak mencapai Rp 54,2 triliun.

"Untuk subsidi non energi yang terbesar adalah untuk subsidi pupuk yang melonjak seiring dengan lonjakan harga gas saat ini. Pada 2006 subsidi pupuk hanya Rp 3,7 triliun, 2007 sebesar Rp 6,3 triliun dan 2008 melonjak menjadi Rp 15 triliun," jelasnya.

Selain itu, subsidi pangan hingga akhir tahun ini juga akan mencapai Rp 12 triliun. "Jadi pos subsidi ini melonjak luar biasa dengan kenaikan harga minyak dunia dan harga pangan. Negara kita total subsidi sudah jauh lebih besar dari anggaran belanja pemerintah pusat," tandasnya.

Sri Mulyani juga mengatakan kenaikkan beban subsidi BBM dan listrik di 2008 ini sangat tinggi dengan kenaikkan harga minyak dunia yang terjadi, hal ini juga akibat lonjakan konsumsi BBM yang dikatakan Sri Mulyani "meledak sangat tinggi".

"Subsidi BBM dan listrik meleset 40% dari target yang ditetapkan pada APBN-P, ini terjadi karena kenaikkan harga minyak dunia," ujarnya.
(dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads