Dirut PLN Fahmi Mochtar menjelaskan, pihaknya memprediksi subsidi listrik tahun ini mencapai Rp 89,3 triliun. Angka ini melonjak dari alokasi APBNP 2008 yang sebesar Rp 62,5 triliun.
Penambahan subsidi dipicu karena naiknya harga bahan bakar pembangkit PLN baik BBM maupun batubara. Sementara di sisi lain, pertumbuhan konsumsi listrik PLN jauh melampaui perkiraan APBNP.
Pada APBNP 2008, harga BBM dipatok dengan ICP US$ 95/barel dan batubara dihargai Rp 521/kg. Tapi kini, ICP sudah melampaui US$ 120/barel dan batubara menjadi 800/kg. Sementara pertumbuhan konsumsi listrik yang di APBNP 2008 hanya diprediksi 1,9%, kini mencapai 5%.
Selisih subsidi sebesar Rp 26,8 triliun ini, menurut Fahmi, setara dengan energi 20,1 TWh dengan asumsi harga BBM Rp 1.336.
"Jadi, bila tambahan subsidi ini tidak diberikan, identik dengan kita harus atur pemadaman setiap hari 1.150 MW," kata Fahmi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu (16/7/2008).
Tak hanya itu, hampir semua prediksi APBNP 2008 yang terkait PLN meleset. Seperti pemakaian BBM untuk pembangkit PLN yang awalnya diperkirakan 9,1 juta KL, diperkirakan naik jadi 10,06 juta KL.
Sementara penjualan listrik PLN yang diperkirakan hanya 121.289 Gwh, diperkirakan mencapai 129.495 Gwh.
Untuk mengatasi defisit subsidi ini, PLN mengajukan empat opsi. Opsi tersebut adalah tambahan subsidi, proteksi energi primer, menaikkan tarif, atau pemadaman.
(lih/qom)











































