Industri Mebel RI Boros Kayu

Industri Mebel RI Boros Kayu

- detikFinance
Kamis, 17 Jul 2008 13:40 WIB
Industri Mebel RI Boros Kayu
Jakarta - Industri furnitur alias mebel Indonesia masih boros bahan baku terutama kayu dan rotan. Padahal kedua bahan baku itu kini semakin langka. Sudah saatnya produsen dalam negeri melakukan inovasi.

Menperin Fahmi Idris mengatakan, solusi atas permasalah tersebut adalah membuat terobosan dengan melakukan desain yang memadukan penggunaan bermacam-macam bahan termasuk kayu, plastik dan besi dalam setiap produk.

Menurut Fahmi, industri mebel Indonesia sudah seharusnya mencontoh China, yang sudah bisa menghasilkan produk sebagus Indonesia, namun dengan porsi kayu yang lebih minim. Desainer asal China, kata Fahmi, bisa menciptakan produk furnitur dengan minim bahan baku, yaitu unsur kayu hanya 30% namun memiliki nilai jual yang sama dengan produk furnitur Indonesia yang hampir 100% memakai kayu.

"Departemen perindustrian sistematis mengembangkan berbagai daerah sebagai pusat furnitur rotan dengan pendekatan SDM, keterampilan, pemasaran, sumber bahan baku, wilayah industri," ujar Fahmi dalam acara peluncuran pameran International Furniture and Craft Indonesia (IFFINA) 2009 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Kamis (17/7/2008).

Saat ini Depperin telah mengembangkan beberapa daerah yang bakal menjadi pusat-pusat desain furnitur, menyusul kota Cirebon yang telah ditetapkan sebagai pusat desain furnitur rotan. Diantaranya adalah daerah Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah yang masih dalam proses, lalu Aceh, Sulawesi Selatan dan Papua.

"Jangan fokus di Cirebon dan Jawa Timur saja, kalau merata maka semakin berkembang industri furnitur kita," katanya.

Dikatakan oleh Fahmi, permintaan pasar furnitur kian ketat karena setiap pasar memiliki ciri khas masing-masing. Artinya produk furnitur untuk pasar Asia belum tentu cocok dengan pasar di Eropa.

Pada tahun 2007 lalu nilai ekspor mebel Indonesia mengalami peningkatan sebesar 8,08%, dari US$ 1,86 miliar pada tahun 2006 menjadi US$ 2,01 miliar. Sedangkan untuk nilai ekspor kerajinan mengalami pertumbuhan 19,51% dari US$ 518 juta pada 2006 menjadi US$ 620,1 juta

Ajang International Furniture and Craft Indonesia (IFFINA) tahun 2009 merupakan ajang yang kedua setelah diselenggarakan pada tahun ini. Rencananya pameran ini akan berlangsung pada 11-15 Maret 2009 di JIExpo.

Pelaksanaan IFFINA 2008 mampu menyedot 8500 buyers terdiri dari 1500 buyers asing dan 7000 lokal, yang umumnya berasal dari Eropa 44% selebihnya Asia, Amerika. Tahun 2009 nanti ditargetkan jumlah buyer yang datang mencapai 12.500 buyers diantaranya 10.000 lokal, 2500 asing.


(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads