Perlambatan ekonomi Asia masih dipicu oleh pelemahan perekonomian global, lonjakan harga pangan dan energi yang tajam dan volatilitas di pasar finansial.
Demikian laporan Bank Pembangunan Asia (ADB) tentang Asia Economic Monitor (AEM) seperti dikutip dari situsnya, Selasa (22/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADB mengingatkan bahwa kenaikan harga-harga di luar makanan dan energi terus berlangsung di seluruh kawasan Asia. Hal ini memberi sinyal bahwa efek putaran kedua dari kenaikan harga-harga masih terus berlangsung.
ADB memperkirakan inflasi akan naik hingga 6,3%, atau dua kali lipat dari rata-rata inflasi dalam 10 tahun terakhir. Ini berarti akan memberi implikasi yang serius pada rumah tangga di Asia yang membelanjakan lebih dari 50% anggarannya untuk berbelanja makanan dan energi.
"Kenaikan inflasi adalah ancaman yang masih serius di kawasan ini, pertumbuhan yang kuat sebagaimana biaya impor makanan dan bahan bakar mengancam pemicu lonjakan harga sehingga memicu lagi inflasi," ujar Jong-Wha Lee, Kepala Integrasi Ekonomi Regional ADB.
Khusus untuk ASEAN, ADB memperkirakan pertumbuhannya akan mundur 1 persen menjadi 5,5% di tahun 2008. Sementara China juga akan melambat perekonomiannya menjadi 9,9% tahun 2008 dan 9,7% tahun 2009, dari 11,9% di tahun 2007.
(qom/ir)











































