Bahkan Indonesia menargetkan mampu menyalip Vietnam yang telah menduduki posisi kapasitas terpasang hingga 330 juta meter persegi keramik.
Walaupun hingga kini posisi produksi kapasitas terpasang Indonesia hampir menyamai Vietnam dengan tingkat utilisasi (pemanfaatan produksi) hampir mencapai 85 persen sedangkan Vietnam hanya 70 persen saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sektor keramik tahun depan akan meninggalkan Vietnam dengan kapasitas 366 juta meter persegi, di level dunia di posisi 6 dan Asia Tenggara jadi No 1," katanya.
Dengan utilisasi 85% dari kapasitas terpasang 330 juta maka tahun ini produksi keramik ditargetkan mampu mencapai 280,5 juta meter persegi atau kurang lebih sama dengan Vietnam yang tahun ini diprediksi bakal anjlok.
Target produksi keramik tahun depan bisa terwujud dengan adanya investasi baru beberapa produsen keramik termasuk upaya ekspansi di beberapa daerah seperti Surabaya, Sumatra dan lain-lain.
Untuk itu upaya ini harus didukung dengan pasokan gas yang memadai bagi industri keramik, dan harga yang terjangkau.
Saat ini kebutuhan gas industri keramik dalam negeri mencapai 107 mmscfd hingga 122 mmscfd dengan asumsi utilisasi hingga 92% hingga akhir tahun, atau di luar dari asumsi baru hingga April 2009. Bila itu dimasukan maka akan mencapai 137 mmscfd.
"Kenaikan gas kita tolelir hanya 10%, atau tidak lebih dari 6 US$ per juta btu, lebih dari itu industri tidak efisien," jelasnya.
Rencanannya pihak industri keramik akan melakukan negosiasi kembali harga gas pada Desember 2008. Kalangan industri keramik mengusulkan agar adanya konsistensi dari PGN terhadap kontrak harga gas.
(hen/ddn)










































