"Dalam beberapa isu, posisi masih tetap saling menjauh," ujar Dirjen WTO Pascal Lamy seperti dikutip dari AFP, Kamis (24/7/2008).
Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu yang mengikuti pertemuan tersebut sebelumnya mengatakan, kelompok negara maju seperti Amerika Serikat (AS) belum bersedia menerima usulan dari negara berkembang (G-33) yang dipimpin oleh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun dianggap ada kemajuan, namun sebagian besar negara masih merasa penurunan tersebut tidak efektif karena masih di atas permintaan G-20 sebesar US$ 12 miliar, belum mendekati $13 miliar yang merupakan salah satu angka di dalam draft text yang ada sekarang, dan dua kali dari tingkat yang sekarang diberlakukan yaitu sebesar US$ 7 miliar.
Perundingan akhir hari pertama pada 22 Juli 2008 posisi berbagai isu utama pertanian maupun non-pertanian, terlihat masih jauh dari titik kompromi. Bahkan posisi AS yang menganggap Special Products (SPs) dan Special Safeguard Mechanism (SSM) terlalu besar pengecualiannya, menjadi hal yang dapat membuat berhasil atau tidaknya putaran negosiasi bagi mereka.
G-33 serta Indonesia merasa tudingan tersebut tidak adil. Diputuskan pada hari kedua yaitu pada 23 Juli 2008, pertemuan dibatasi kepada Kelompok G-6 (Amerika Serikat, Uni Eropa, Brazil, India, Australia, Jepang) dan RRT karena sebagian besar perbedaan berada di antara negara-negara tersebut.
Posisi per 23 Juli 2008 jam 23.00 waktu Jenewa, belum ada hasil yang muncul walaupun kelompok tersebut telah bertemu untuk lebih dari 10 jam. Rencananya, pada Kamis tanggal 24 Juli 2008 waktu setempat, proses "Green Room" akan dilanjutkan lagi dengan harapan sudah tercapai titik temu.
Komisi Perdagangan Uni Eropa, Mandelson mengakui bahwa perundingan tadi malam merupakan salah satu yang tersulit dan penuh konfrontasi.
Ia menyebut perundingan selama 12 jam antara Uni Eropa, AS, Australia, China, India, Brasil dan Jepang itu sebagai sebuah 'ketegangan'.
Usai pertemuan pada Kamis, pukul 04.00 dini hari waktu setempat, Menteri Perdagangan India Kamal Nath menyatakan adanya perkembangan meski masih ada hal-hal sulit yang harus dituntaskan. Perundingan diharapkan bisa tuntas akhir pekan ini.
Menteri Pertanian Prancis Michel Barnier meminta negara-negara berkembang untuk membuat penawaran baru dan kemungkinan bisa memberi harapan untuk perundingan tersebut.
"Saya tidak melihat ada setitik cahaya.... di horison antara dua kepentingan yang sangat-sangat kontradiktif," ujarnya dalam wawancara dengan televisi Prancis, LCI.
(qom/ddn)











































