"Dulu kita memang rencana masuk, tapi sekarang ini problemnya adalah nilai ekonomisnya, investasi untuk geothermal itu besar sekali khususnya dalam pengeboran mencari spotnya," kata Chairul usai mengikuti pemaparan Dirjen Pajak tentang Sunset Policy di kantor Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (25/7/2008).
Chairul menjelaskan tingkat keberhasilan geothermal lebih tinggi ketimbang pengeboran minyak, tapi untuk mendapatkan itu biayanya besar sekali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski biaya geothermal saat ini mahal, namun menurut Chairul pihaknya siap investasi asalkan ada nilai ekonomisnya.
"Kalau kami sih anytime saja, kalau nilai ekonomisnya masuk dan PLN mau. Kita siap untuk investasi, tapi kalau harganya cuma 4 sen untuk geothermal gak masuk. Kalau mau bicara geothermal itu sekitar 7-8 sen, pokoknya kami siap. Tapi kan kami bukan pengusaha yang mencari kerjaan, tapi kalau kami diminta kami siap. Kalau kami disuruh mencari-cari gak deh terimakasih, biar yang lain saja," urainya.
Saat ini kata Chairul, pihaknya sedang fokus mengembangkan sektor perkebunan dan belum tertarik masuk ke tambang.
"Tambang enggak, so far belum ada kok, kami saat ini baru mengembangkan perkebunan tapi dari nol di Kalimantan," katanya.
Kebun sawit yang dimiliki itu memiliki luas 60 ribu hektar. Rencananya selain sawit, Chairul juga akan mengembangkan komoditas lain seperti karet dan tebu.
"Karena sekarang harga komoditi lagi bagus-bagusnya," katanya. (ir/qom)











































