Agrodiplomasi, Menjawab Cina dan India

Laporan dari Libramont

Agrodiplomasi, Menjawab Cina dan India

- detikFinance
Sabtu, 26 Jul 2008 00:49 WIB
Agrodiplomasi, Menjawab Cina dan India
Libramont - Pertama kali dalam sejarah Indonesia melancarkan agrodipomasi di Libramont, ajang pameran pertanian terkemuka di Uni Eropa. Ini demi menanggapi perilaku asertif Cina dan India.

Pameran berbendera Foire Agricole Forestiere di Libramont, Belgia, itu diikuti lebih dari 600 partisipan dari berbagai negara dan akan berlangsung selama 4 hari (25-28/7/2008).

Partisipasi Indonesia dengan KBRI Brussel sebagai ujung tombak merupakan bagian dari agrodiplomasi, selain bertujuan mempromosikan produk pertanian nasional, juga sekaligus mengamati tren pasar pertanian Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dubes RI untuk Belgia, Luxemburg dan Uni Eropa Nadjib Riphat Kesoema mengatakan pihaknya akan terus menjalankan agrodiplomasi tersebut, yang secara langsung akan mendatangkan manfaat bagi rakyat Indonesia.

"Melalui agrodiplomasi diharapkan akan tercapai peningkatakan kapasitas industri pertanian dan pemajuan pasar untuk produk pertanian Indonesia," tutur Nadjib kepada detikfinance, Jumat (25/7/2008).

Sementara itu Atase Pertanian Edy Hartulistyoso mengatakan, ada hal penting lain yang akan dicermati, yakni skema standar dan sertifikasi yang diterapkan oleh Uni Eropa (UE).

"Saat ini Indonesia masih mengandalkan beberapa komoditi seperti kelapa sawit dan kakao untuk menembus pasar Eropa. Namun ke depan akan didorong ekspor produk pertanian bernilai tambah tinggi untuk mengkompensasi biaya yang timbul akibat jarak jauh," kata Edy.

Stan Indonesia kali ini didukung peralatan audio visual untuk mempromosikan produk-prosuk alat pertanian made in Indonesia. Dilengkapi demonstrasi produk unggulan teh dan kopi, informasi profil pertanian dan ekspos sektor agroindustri nasional.

Partisipasi Indonesia ini digarap bersama Atase Pertanian dan Atase Perindustrian sebagai bagian upaya mencari peluang untuk promosi sektor agroindustri nasional di masa depan.

Menurut Atase Perindustrian Harjanto, ancang-ancang strategis tersebut perlu diambil untuk menanggapi perilaku asertif Cina dan India, yang telah mampu mengirim sejumlah produk mesin-mesin pertanian ke Eropa.

"Padahal kemampuan nasional Indonesia untuk membuat produk-produk sejenis tidak kalah," demikian Harjanto.
(es/es)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads