Para pembuat keputusan dari 35 negara yang hadir dalam pertemuan tampaknya telah menemukan sebuah jembatan penghubung diantaraΒ dua kepentingan sangat berbeda.
"Saya pikir situasinya sekarang cukup kuat. Saya pikir kita sekarang dapat merasa sangat yakin," ujar Ketua Komisi Perdagangan Eropa Peter Mandelson seperti dikutip dari AFP, Sabtu (26/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembahasan isu-isu utama masih berkutat pada isu pertanian, seperti pengurangan subsidi domestik dan subsidi ekspor oleh negara maju yang mendistorsi perdagangan internasional, pengecualian dari pengurangan tarif bea masuk produk pertanian (sensitive products untuk negara maju dan special products untuk negara berkembang), sistem tindakan pengamanan atas produk pertanian yang sensitif di negara berkembang (Special Safeguard Mechanism).
Untuk non-pertanian (NAMA) meliputi perluasan akses pasar melalui pengurangan tarif bea masuk produk industri baik di negara maju maupun negara berkembang.
Setelah mengadakan pertemuan dengan kelompok G-6 (Amerika Serikat, Uni Eropa, Brasil, India, Australia, dan Jepang) serta RRT, Direktur Jenderal WTO, Pascal Lamy melaporkan hasil pembahasan kelompok kecil G-6 akan dibawa ke pertemuan "green room", selanjutnya di sampaikan pada sidang TNC dalam rangka transparansi.
Sebagian besar perbedaan berada di antara negara-negara/kelompok G-6 dan China sehingga pembahasan isu-isu utama dilakukan di kelompok terbatas tersebut untuk mencapai kompromi dasar penyelesaian perundingan.
Upaya intensif untuk mendekatkan posisi antar kelompok akan terus diupayakan. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan dalam modalitas berdasarkan draft teks perjanjian di masing-masing perundingan.
Dirjen WTO menegaskan, keputusan penyelesaian modalitas penuh perundingan pertanian dan NAMA harus dapat diselesaikan dalam 24 jam kedepan. Untuk itu Mr. Lamy menghimbau agar para Menteri memberikan keputusan politis dan melakukan konsultasi dengan pemerintah pusat masing-masing.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu memprotes Ketua TNC karena tidak adanya transparansi hasil-hasil pembahasan yang dilakukan oleh Kelompok G-6 dalam melakukan konsultasi untuk mencari solusi penyelesaian perundingan tersebut.
"Banyak negara termasuk Indonesia tidak mengetahui apa yang terjadi karena semuanya tidak transparan, kami mendesak Ketua TNC agar semua proses lebih baik dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil dan besar yang dilakukan secara transparan dan lebih terbuka. Kelompok kecil yang terbentuk hendaknya hanya membahas isu-isu yang terkait atas kelompok tersebut dan tidak membahas seluruh isu perundingan," tegas Mari Pangestu dalam siaran persnya. (qom/qom)











































