AS Balik Tuding Negara Berkembang

Perundingan WTO

AS Balik Tuding Negara Berkembang

- detikFinance
Senin, 28 Jul 2008 09:31 WIB
AS Balik Tuding Negara Berkembang
Jenewa - Amerika Serikat balik menuding negara-negara berkembang dalam pertemuan World Trade Organisation (WTO) di Jenewa, Swiss. Negara berkembang dituding memperlambat tercapainya kesepakatan.

"Kita sudah memiliki alur pada Jumat untuk menjadi hasil yang sukses pada Jumat malamnya. Ini memang belum sempurna, namun secara jelas berimbang dan memiliki dukungan yang kuat," ujar Kepala Perwakilan Perdagangan AS, Susan Schwab seperti dikutip dari AFP, Senin (28/7/2008).

"Sayangnya, beberapa negara berkembang telah memutuskan bahwa bagaimanapun mereka ingin menyeimbangkan kembali sesuai kepentingan satu atau isu yang lainnya," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para menteri dari 35 negara kunci perdagangan dunia akan berkonsultasi dengan seluruh 153 anggota WTO pada Senin ini. Diskusi yang melelahkan telah berlangsung selama sepekan, namun belum juga ada titik temu antara kubu negara maju dan negara berkembang.

Menteri Perdagangan India, Kamal Nath menyatakan pertemuan malam hari kemarin cukup konstruktif, namun masih ada ketidaksepakatan atas masalah tarif impor produk pertanian dan proposal untuk barang-barang industrial,

"Ada 100 negara yang telah membuat kesimpulan untuk mengekspresikan kepentingan yang disebut special safeguard mechanism (SSM), yang akan membuat negara-negara berkembang bisa menaikkan tarif produk pertanian jika impor melonjak," tambah Nath.

Namun diplomat dari Afrika menepis pernyataan Nath itu. "Siapa saja 100 negara itu? Mereka (India) memunculkan segepok kebohongan," ketusnya.

Dibawah kesepakatan yang dibawa Dirjen WTO Pascal Lamy, negara-negara berkembang dapat menggunakan SSM untuk memproteksi sektor pertaniannya dengan menaikkan tarif pada barang-barang impor jika melonjak lebih dari 40%.

Namun diplomat India menilai batasan itu terlalu tinggi. "Sejalan dengan waktu, tarif dapat mencapai 40%, dan masyarakat kami akan meninggal," cetusnya.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads