Hal tersebut disampaikan Menkeu Sri Mulyani di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (28/7/2008).
"Proyeksi yang terjadi di seluruh dunia, mengenai masalah global ekonomi yang turun menyebabkan kemungkinan nilai equilibrium ada di sekitar US$ 133, jadi proyeksi 2009 untuk ICP (harga minyak mentah Indonesia) sekitar US$ 128-129, jadi ini mungkin kita pakai di US$ 130," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita melihat harga minyak dan kita pelajari, dan sudah kita finalkan, kemungkinan akan kita turunkan dari US$ 140 per barel, yang kemarin disampaikan di sidang kabinet yang lebih merefleksikan situasi yang terjadi sebulan ini," ujarnya.
Meski menurunkan asumsi, namun untuk menjaga segala risiko dalam harga minyak, pemerintah tetap akan menjaga dana cadangan risiko fiskal dengan asumsi harga di US$ 160. "Jadi mungkin baseline-nya saja yang akan diturunkan namun risiko fiskalnya tetap mencakup US$ 160," ujarnya.
Cadangan risiko fiskal ini disiapkan dalam APBN jika ternyata asumsi harga minyak jauh melebihi dari target.
Usai rapat kabinet 22 Juli lalu, Menkeu mengeluarkan beberapa asumsi yang akan dipakai dalam perhitungan APBN 2009.
Untuk pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen, inflasi 6,5 persen. Tingkat suku bunga untuk SBI 3 bulan 8,5 persen nilai tukar di 9.100 rupiah. Asumsi harga minyak US$ 140 per barel. Lifting (minyak siap jual) 950.000 barel per.
Volume konsumsi BBM akan mencapai 38,9 juta kiloliter kalau dibandingkan APBNP 2008 maka meningkat tajam dari sebelumnya 35,5 juta kiloliter.
Untuk Premium akan mencapai 20,4 juta kiloliter atau naik dari 17 juta pada APBNP 2008. Konsumsi Solar menjadi 12,6 juta kiloliter atau naik dari 11 juta, dan minyak tanah turun ke 5,8 juta kiloliter karena konversi minyak tanah ke gas akan terjadi sekitar 4 juta kiloliter tahun depan.
(ddn/ir)











































