Asumsi ICP Bisa Turun Jadi US$ 130

Asumsi ICP Bisa Turun Jadi US$ 130

- detikFinance
Selasa, 29 Jul 2008 08:06 WIB
Jakarta - Pemerintah harapkan tren penurunan harga minyak dunia yang terjadi dalam 1 bulan terakhir ini akan terus berkelanjutan. Dengan demikian asumsi Indonesia Crude Price (ICP) bisa diturunkan.

Dengan penurunan harga minyak dunia itu, pemeirntah berharap bisa mendapatkan dampak positif terhadap kinerja APBN khususnya pada besaran subsidi dan kondisi makro ekonomi.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu ketika ditemui usai Rapim di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin malam (28/7/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi (jika minyak dunia turun)  tidak hanya porsi subsidinya, namun porsi makronya juga membaik. Makanya kalau harga minyak naik itu kan tidak hanya mengganggu perhitungan subsidi, tapi juga kondisi makro," tuturnya.

Anggito mengatakan kalau harga minyak dunia terus turun perbaikan indikator ekonomi akan terjadi. "Sehingga net impact-nya lebih baik daripada harga naik, konsumsi bisa dikontrol, disparitas harganya juga lebih mengecil,  sehingga kepercayaan dari pasar lebih baik," katanya.

Memang dengan tren penurunan harga minyak dunia yang terjadi, pemerintah berencana menurunkan asumsi harga minyak (ICP) untuk RAPBN 2009 dari tadinya US$140 per barel menjadi US$130 per barel.

"Jika minyak turun nanti akan ada pengurangan dari alokasi subsidi, pokoknya semuanya jadi lebih baik, tapi harus realistis jangan sampai kita menurunkan asumsi (APBN) harga itu menyebabkan gangguan confidence karena tidak realistis," ucapnya.

Untuk 2008 sendiri, Anggito menjelaskan penurunan harga minyak dunia yang terjadi akan berpengaruh terhadap APBN 2008.

"Dengan harga turun keadaan ekonomi lebih baik, kalau harga naik kan kita harus waspada menyiapkan langkah-langkahnya," katanya.

Anggito menuturkan ada 2 hal yang menyebabkan tren harga minyak dunia saat ini menurun, pertama karena adanya perlambatan ekonomi dunia dan rencana OPEC untuk menaikkan kapasitas produksinya.

"OPEC kan naikkan produksi dan karena ada perlambatan ekonomi dunia maka ekspektasi dari demand juga akan melambat. Perlambatan ekonomi dunia tidak begitu pengaruh kepada kita karena kita tidak besar, pengaruhnya itu ke negara besar seperti AS, makanya ekspor kita ke negara itu akan terpengaruh, tapi konsumsi rumah tangga masih mengkompensasi," paparnya. (dnl/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads