Menkeu Tegur Keras PLN

Menkeu Tegur Keras PLN

- detikFinance
Selasa, 29 Jul 2008 10:10 WIB
Menkeu Tegur Keras PLN
Jakarta - Aliran listrik yang masih defisit di daerah menjadi sorotan lagi. Kinerja PT Perusahaan Listrik Negara mengalirkan setrum listrik di sejumlah daerah dinilai lambat.

Menko Perekonomian yang juga Menkeu Sri Mulyani protes karena aliran listrik PLN di gedung departemennya sempat telat menyala. Akibatnya peresmian gedung baru pun tertunda

Hal tersebut disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam sambutan saat penandatanganan kerja ssama pemberian kredit 4 bank bagi PLN di gedung Djuanda, Depkeu..

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"PLN lamban merespons kebutuhan listrik daerah padahal permintaan listrik saat ini terus meningkat. Contohnya kemarin Gedung Depkeu di Manado saja yang seharusnya saya resmikan harus menunggu peresmiannya karena listrik belum masuk. Jadi gedung itu harus menunggu 6-9 bulan untuk mendapat pasokan listrik," ujarnya dengan nada agak keras.

Menkeu menyayangkan lambatnya pasokan listrik yang lamban, padahal Manado merupakan ibukota provinsi Sulawesi Utara.

"Bayangkan saja, padahal itu kota Manado kota besar, saya gak bisa bayangkan juga bagaimana daerah yang lebih kecil dari itu, pasokan listriknya pasti lebih susah," ujarnya.

Menkeu pun meminta PLN lebih responsif dalam menjawab kepbutuhan listrik terutama di daerah-daerah. "Meskipun begitu PLN juga harus hati-hati dalam merencanakan sesuatu untuk kegiatan ekspansinya, jadi tidak ada yang dikorbankan," ujarnya.

Listrik Sudah Jadi Barang Mahal


Menkeu menambahkan kini pemerintah tengah berupaya untuk melakukan penghematan listrik, mengingat listrik sekarang sudah jadi barang mahal.

"Saya sedang meminta seluruh tagihan listrik kantor pemerintahan kepada PLN, Pak Fahmi (dirut PLN)nya kan janjinya hari Kamis atau Jumat kemarin memberikan kepada saya, tapi sampai saat ini belum dikasih, saya ingin membandingkan tagihan listrik kantor pemerintah pada bulan Juni dengan bulan Mei," ujarnya.

Penghematan listrik itu sudah diinstruksikan oleh Presiden SBY beberapa waktu lalu, termasuk penggunaan AC di kantor pemerintah. "Nah saya lihat tuh banyak yang kipas-kipas jadi itu menjadi bentuk keprihatinan karena saat ini listrik adalah barang yang mahal bukan lagi merupakan barang murah," ujarnya.
(ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads