OPEC Tak Pernah Mengontrol Harga Minyak

OPEC Tak Pernah Mengontrol Harga Minyak

- detikFinance
Selasa, 29 Jul 2008 14:14 WIB
OPEC Tak Pernah Mengontrol Harga Minyak
Jakarta - Gejolak harga minyak akhir-akhir ini bukan dipicu oleh OPEC. Presiden OPEC Chakib Khelil menegaskan, OPEC hanya menguasai 40% produksi minyak dunia, sehingga tak mungkin bisa mengontrol harga.

"OPEC itu hanya memegang 40% dari produk minyak mentah dunia. Jadi kami tidak mengontrol sepenuhnya. 60% lainnya di kontrol oleh pihak lain seperti perusahaan2 dan lainnya. Oleh karena itu OPEC tidak pernah mengontrol harga," tegas Khelil.

Ia menyampaikan hal itu usai pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kantor presiden, Jakarta, Selasa (29/7/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khelil pun menyampaikan 2 contoh untuk membuktikan bahwa ia tak pernah mengontrol harga minyak dunia. Pertama adalah ketika produksi minyak Venezuela sebanyak 3 juta barel per hari (bph) dan Nigeria sebanyak 1 juta bph terhenti, sehingga terjadi kekosongan produksi 4 juta bph.

"Jumlah itu dicukupi oleh OPEC, oleh seluruh anggotanya. Bila OPEC menginginkan harga tinggi, kita tidak akan mengisi kekosongan itu karena didalam charter OPEC tujuan organisasi itu adalah untuk mencukupi permintaan minyak," jelasnya/

Contoh yang kedua adalah ketiga terjadi masalah produksi minyak di Teluk Meksiko sehingga 2 juta bph produksi hilang. Namun kekurangan itu selanjutnya bisa diisi oleh OPEC.

"Harga dikendalikan oleh pasar. Harga minyak pada tahun 1986, seharga US$ 9, pada tahun 1998 US$ 10, dan harga minyak saat ini mencapai US$ 120. Itu adalah keputusan pasar dan sayangnya bukan hanya di pengaruhi oleh suplai dan demand tapi juga dipengaruhi oleh faktor lainnya anda ketahui," urai Khelil.

Dengan pergerakan harga yang sangat bergejolak, Khelil menyatakan bahwa tak mungkin faktor yang menyebabkan hanyalah suplai dan demand. Seperti diketahui, harga minyak sempat menembus level tertingginya pada US$ 147 per barel pada 11 Juli, namun kini sudah stabil di kisaran US$ 125 per barel.

"Dari isu-isu itu kenaikan harga minyak tidak semata2 karena suplai dan demand. Karena itu sulit menjelaskan perubahan harga sebesar US$ 20 dalam sehari. Jadi tidak mungkin hanya suplai dan demand, tentunya karena faktor-faktor lainnya," tegasnya lagi.

Perubahan harga minyak yang cepat itu, menurut Khelil, antara lain juga disebabkan oleh pergerakan mata uang dan masalah geopolitik.

Pertemuan SBY-Khelil

Mengenai pertemuan Presiden SBY dan Chakib Khelil, juru bicara kepresidenan Dino Pati Djalal menjelaskan, selain membicarakan harga minyak, kedua pemimpin itu akan membicarakan kerjasama Indonesia dan Aljazair. Khelil merupakan menteri perminyakan dari Aljazair.

"Banyak terjadi pertukaran pemikiran antara Presiden dengan Chakib. Isu yang kedua mengenai kerjasama bilateral antara Indonesia dan Aljazair, nanti siang Chakib Khalil akan bertemu dengan komunitas energi membicarakan kerjasama kedua negara di bidang energi," katanya.

Khelil sendiri mengaku dirinya bertukar pikiran dengan presiden SBY tentang pasar minyak dunia dan OPEC, termasuk juga hubungan kedua negara.

"Dalam pembicaraan itu juga kami berdua memiliki pandangan bahwa kenaikan harga minyak terlalu tinggi saat ini. Dengan harga minyak saat ini itu tidak menguntungkan baik bagi produsen maupun konsumen," jelasnya.

(qom/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads