OPEC: Minyak akan Turun ke US$ 70

OPEC: Minyak akan Turun ke US$ 70

- detikFinance
Selasa, 29 Jul 2008 18:04 WIB
OPEC: Minyak akan Turun ke US$ 70
Jakarta - Negara pengekspor minyak (OPEC) memprediksi harga minyak mentah akan terus turun hingga level US$ 70-80 per barel. Tapi kapan waktunya, Presiden OPEC Chakib Khelil tak bisa memastikan.
 
"Harga minyak akan turun sampai US$ 70-80. Tapi seberapa cepat, kami tidak tahu. Apakah dalam wanktu singkat atau masih lama," ujarnya di hadapan kontraktor-kontraktor migas yang beroperasi di Indonesia di Gedung Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (29/7/2008).
 
Menurutnya ada tiga faktor yang mendorong prediksi penurunan harga minyak ini. Pertama adalah nilai dolar AS yang diperkirakan akan menguat. Apalagi saat ini AS tengah berjuang untuk menghadapi inflasi, sehingga nilai dolar AS diperkirakan akan menguat.
 
Kedua adalah faktor geopolitik dimana kekhawatiran keamanan Iran mulai berkurang. Dengan demikian maka Iran bisa memproduksi minyak lebih banyak.
 
Ketiga adalah resesi di AS yang akan berdampak pada penurunan permintaan minyaknya. Sementara peningkatan permintaan dari China dan India tidak setinggi sebelum-sebelumnya.
 
"Karena peningkatan dolar, faktor geopolitik dan ekonomi ini, harga minyak bisa terus turun. Tapi setiap orang kan punya prediksi masing-masing. Mungkin juga ada yang tidak setuju dengan saya," katanya.

Chakib juga menegaskan, Indonesia harus berhati-hati dalam menerapkan subsidi BBM. Di satu sisi, subsidi BBM memang membebani keuangan negara, tapi di sisi lain daya beli masyarakat Indonesia belum bisa menjangkau harga internasional.
 
"Isu subsidi memang harus sesuai dengan kemampuan keuangan pemerintah. Tapi Indonesia juga harus hati-hati menerapkan harga internasional karena daya beli masyarakatnya berbeda dengan masyarakat di AS dan Eropa," ujarnya.
 
Namun ia mengaku setuju jika Indonesia berusaha memangkas tingkat konsumsi. Karena dengan begitu, diharapkan subsidi bisa benar-benar mencapai pihak yang memang layak mendapatkannya.
 
"Kebanyakan subsidi selalu jatuh ke orang kaya. Karena mereka adalah orang-orang yang punya kemampuan untuk membeli lebih banyak roti, dan lebih banyak bensin. Bukan orang miskin," ujarnya.
(lih/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads