Padahal optimisme sempat menyeruak ditengah perundingan. Namun mendekati pembicaraan akhir, jurang perbedaan antar negara di WTO justru semakin meruncing. Hal yang paling menjadi perbedaan adalah masalah Special Safeguard Mechanism (SSM).
SSM merupakan pengenaan tarif khusus pada produk-produk pertanian tertentu jika impor melonjak atau harga turun tajam. SSM ditujukan untuk melindungi petani miskin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala negosiator Eropa Peter Mandelson mengatakan kegagalan untuk mencapai kesepakatan itu 'menghancurkan hati" dan sejumlah rekan negosiator lainnya mengungkapkan penyesalan mendalam atas kegagalan dalam membangun jembatan perbedaan.
"Ini adalah kegagalan kolektif. Saya takut pada subyek ini ada kekuatan yang tak bisa ditahan bertemu pada sebuah subyek yang tidak bisa bergerak di ruang negosiasi dan sisanya adalah sejarah," ujar Mandelson seperti dikutip dari AFP, Rabu (30/7/2008).
Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu yang juga mengikuti perundingan tersebut menyatakan kekecewaan atas kegagalan perundingan WTO. Ia menegaskan, negara-negara berkembang sebenarnya sudah mau berkompromi demi tercapainya kesepakatan.
"Kami siap untuk berkompromi. Kami tentu saja sangat kecewa dan menyesalkan hal itu. Kesempatan untuk bernegosiasi tidak pernah datang," tegas Mari yang juga menjadi koordinator bagi kelompok G-33 tersebut.
Mari mengaku dirinya tidak bisa mengerti mengapa masalah SSM tidak dapat diatasi. Padahal masalah itu adalah permintaan yang sangat masuk akal dan hal yang gampang dikompromikan.
(qom/qom)










































