Perundingan yang berlangsung siang dan malam selama 9 hari di Jenewa, Swiss, sama sekali tak membuahkan hasil. Sumber dari kegagalan kesepakatan adalah pada masalah Special Safeguard Mechanism (SSM).
SSM merupakan pengenaan tarif khusus pada produk-produk pertanian tertentu jika impor melonjak atau harga turun tajam. SSM ini ditujukan untuk melindungi petani miskin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"India dan China adalah kekuatan dari negara-negara berkembang, namun kekuatan besar membawa konsekuensi tanggung jawab yang besar," tegas Kamar Dagang AS dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Rabu (30/7/2008).
Perwakilan perdagangan AS Susan Schwab mengatakan, kegagalan perundingan 'sangat-sangat menyusahkan' karena dia merasa bahwa resolusi sudah berada dalam genggaman.
"Sebenarnya (kesepakatan) itu akan bekerja, namun selanjutnya ada negara-negara yang menginginkan lebih dan lebih untuk memasukkan sebuah alat guna menutup pasar," lanjutnya.
Media-media China pun memberikan kritikan serupa kepada sebuah negara yang tidak dituliskan namanya yang dianggap terlalu membawa kepentingannya sendiri. Delegasi China juga menganggap kegagalan itu sebagai 'kegagalan tragis' dan mengungkapkan kekecewaan seputar ketidakmampuan negara-negara untuk mencapai kesepakatan.
Menteri Perdagangan India Kamal Nath mengaku dirinya pulang dengan berat hati karena tidak tercapainya kesepakatan di WTO.
Di Eropa, kecaman tajam juga diberikan kepada negara-negara berkembang. Menurut Menteri pertanian Perancis Michel Barnier, Uni Eropa telah membuat usaha yang besar dengan menawarkan penguranan bea masuk termasuk mengurangi dukungan untuk ekspor.
Menteri Pertanian Jerman, Horst Seehofer menyesalkan hilangnya kesempatan tercapainya kesepakatan itu.
Sementara Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu juga menyatakan kekecewaan atas kegagalan perundingan WTO. Ia menegaskan, negara-negara berkembang sebenarnya sudah mau berkompromi demi tercapainya kesepakatan.
"Kami siap untuk berkompromi. Kami tentu saja sangat kecewa dan menyesalkan hal itu. Kesempatan untuk bernegosiasi tidak pernah datang," tegas Mari yang juga menjadi koordinator bagi kelompok G-33 tersebut.
Komentar lebih bijak dan optimistis disampaikan oleh Menteri Perdagangan Australia Simon Crean.
"Ini bukan berarti akhir dari sebuah jalan. Ini bukan akhir dari putaran Doha," katanya optimistis.
(qom/qom)










































