Menkeu Sangsi Harga Minyak Dunia Bisa Cepat Turun

Menkeu Sangsi Harga Minyak Dunia Bisa Cepat Turun

- detikFinance
Kamis, 31 Jul 2008 16:33 WIB
Menkeu Sangsi Harga Minyak Dunia Bisa Cepat Turun
Jakarta - Harga minyak dunia belum dapat dipastikan menurun meskipun Presiden OPEC memprediksikan harga minyak mentah dunia bisa turun hingga level US$ 70 hingga US$ 80 per barel.

Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (31/7/2008).

"Dua bulan lalu saja dia (OPEC) pernah mengatakan harga minyak bisa US$ 200 per barel. Surplus net impact inilah yang akan menjadi pertimbangan Panggar menentukan pagu cadangan risiko fiskal bagi anggaran. Untuk itu, meski harga dunia turun dalam beberapa waktu terakhir belum tentu dana cadangan risiko fiskal akan dikurangi," kata dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Dradjad Wibowo yang menyatakan penurunan harga minyak tetap memberikan penambahan penerimaan migas. Namun, di sisi lain, dia menyakini risiko fiskal tidak berubah meski penerimaan migas masih lebih tinggi dari kenaikan subsidi.

Karena itu, dengan adanya surplus tersebut, realisasi defisit APBN harusnya bisa diturunkan di bawah target APBN. Apalagi saat ini realisasi belanja negara masih sangat rendah dan penerimaan migas berpotensi naik lebih besar karena lifting sekarang tiba-tiba naik jadi 1 juta barel per hari.

"Kalau harga minyak pada kuartal III 2008 turun mendekati US$ 100 per barel karena melemahnya permintaan Amerika Serikat, defisit APBN bisa lebih rendah lagi," kata dia.

Dradjad juga mengatakan, risiko fiskal tidak akan banyak berubah karena seharusnya Indonesia masih surplus dari berbagai perubahan harga minyak.

"Buktinya adalah rupiah tidak bergerak banyak, meskipun BI tidak lakukan intervensi, yang dilakukan BI saat ini hanya smoothing saja," katanya.

"Saya juga yakin risiko fiskal tidak berubah karena kenaikan penerimaan migas sebenarnya masih lebih tinggi dari kenaikan subsidi, bahkan hitung-hitungan SP Pertamina, harusnya kita masih surplus Rp 40 triliun," tuturnya.

Dradjad mengatakan realisasi defisit APBN-P 2008 seharusnya juga bisa diturunkan di bawah target 1,8%, karena beberapa alasan.

"Pertama realisasi belanja negara masih sangat rendah, kedua penerimaan migas berpotensi naik lebih besar karena lifting sekarang tiba-tiba naik jadi 1 juta bph, aneh juga sebenarnya. Kalau harga minyak pada kuartal III-2008 turun mendekati US$ 100 barel karena melemahnya permintaan AS, maka defisit tersebut bisa lebih rendah lagi. Bahkan bisa mencapai 1,5%," paparnya (dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads